Mahasiswa, Beasiswa dan surat miskin

18 03 2009

Mahasiswa sebagai seorang yang dianggap intelektual, dengan segenap kemampuan dan beban tanggung jawab kerapkali dipandang lebih hebat dalam pandangan masyarakat, dari aksi-aksi demo yang mereka sering lakukan, dari kegiatan-kegiatan yang bertema sosial, ekonomi yang pada intinya adalah untuk kesejahteraan orang banyak.

Tak jarang mereka diberi gelar sebagai agent of change, yang kelak akan menjadi ujung tombak dalam perubahan yang memberi dampak baik untuk kyalayak umum. Dan tidak bisa dipungkiri memang, ada banyak harapan yang digantung di atas pundak mereka yang memegang predikat mahasiswa, orang tua, masyarakat dan masih banyak lagi.

Sebagai insan akademis, seorang mahasiswa dituntut untuk melakukan segala sesuatu yang bersifat ilmiah, tidak bisa dipungkiri memang, kalau metode ilimiah yang kerap dilakukan, membawa mahasiswa pada tingkatan mendewakan metode ilmiah, semua harus ilmiah, sesuatu yang tidak bisa dijangkau dengan logika ilmiah akan di tolak mentah-mentah. Sebentar, mungkin tidak santun rasanya kalau saya main pukul rata seperti ini, toh dari sekian banyak mahasiswa ilmu pasti yang mengagungkan metode ilmiah dan meng-agung-agungkannya, masih ada sebagian kecil dari mereka yang bisa di ajak kompromi untuk hal-hal yang tidak ilmiah (sebenarnya batasan ilmiah tidak ilmiah itu sampai mana?), saya tidak paham betul dengan konsep akal dan perasaan yang sering diperdebatkan oleh filosof dan ilmuwan, bagaimana mereka sampai pada satu kesimpulan dalam penyelesaian masalah tertentu.

Seperti layaknya mereka yang mencari rusa dengan menelesuri serta menciup bau rusa, dan satu nya lagi mencari rusa dengan mengikuti jejak kakinya, pada dasarnya mereka sama-sama mencari rusa, hanya saja cara yang mereka gunakan yang berbeda.

Sebenarnya saya hanya ingin menulis sedikit tentang mahasiswa.

Dan selanjutnya adalah beasiswa, diantara sekian banyak mahasiswa yang bisa singgah di bangku perguruan tinggi, tidak semuanya bisa melakukan studi sampai batas waktu yang telah di tentukan, bisa jadi itu masalah akademis, masalah cinta (ini saya kurang yakin), dan terakhir yang lebih sering terjadi adalah masalah ekonomi, ya …. masalah keuangan.

Disinilah beasiswa dapat menunjukkan manfaatnya, dari sekian banyak mahasiswa berprestasi yang tidak mampu dalam hal ekonomis dapat terbantu dengan adanya beasiswa dari berbagai sponsor.

Ini juga sama, saya hanya menggambarkan definisi beasiswa menurut yang saya pahami, mungkin ada definisi lain yang lebih ilmiah :D

Terakhir yang saya ingin katakan adalah surat miskin, dari segi bahasa (halah apa pula ini), surat itu apa? Dan miskin itu apa? Yang pasti surat miskin ini sering saya dengar dari kawan-kawan, dari selebaran pengumuman yang di pajang di mading kampus, sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa, kreteria untuk mendapat beasiswa seperti yang saya jelaskan di atas salah satunya adalah surat miskin.

Surat yang akan jadi bahan pertimbangan kalau pemohon benar adanya berasal dari keluarga tidak mampu, dan layak untuk mendapatkan tunjangan tambahan dalam bentuk beasiswa.

Semua ada waktu dan tempatnya, sesuatu yang tidak diletakkan pada tempatnya akan menimbulkan petaka, sesuatu yang dilakukan tidak pada waktunya juga akan kelihatan prematur, tidak akan ada hasil yang maksimal. Ada satu lagi, pekerjaan yang dilakukan oleh yang bukan ahlinya juga berpeluang untuk tidak berhasil.

Mahasiswa, beasiswa, surat miskin yang disalah gunakan akan sangat berakibat pada kelangsungan definisi yang saya tulis barusan di atas, mungkin difenisi dari kawan kawan blogger sedikit banyak berbeda dengan saya tentang semua terma di atas itu.

Dengan ini sebenarnya saya menolak semua bentuk manipulasi surat-surat untuk kepentingan yang tidak pada tempatnya, dan dengan ini pula saya menolak untuk bergabung dengan mereka.





Mahasiswa dan Che…

10 03 2009

Teruskanlah menjalin hubungan dengan rakyat, jangan mencoba menolong mereka lewat ilmu pengetahuanmu dan jangan bertingkah seolah-olah seperti seorang bangsawan yang sedang memberi uang kepada peminta-minta….

(Ernesto Guevara de la Serna)

Sangat menyentil, sekedar informasi, saya tidak punya kaos oblong bergambar Che, dan tidak juga menyimpan foto ukuran jumbo di kamar tidur saya, tapi sumpah, di PC saya cuma ada satu itupun saya tidak tahu dapat di mana tempo hari.





Amburadul

6 03 2009

Well, hanya postingan sampah, tentang penampilan beranda ini akhir-akhir ini, tampak tidak konsisten, dan gonta-ganti. Semoga ini adalah yang terakhir, kecuali kalau umur masih mau bersahabat dan masih mau singgah untuk waktu yang lama dalam tubuh ini.

Juga dengan koneksi yang sangat menyenangkan seperti saat ini :D





Nyanyian Perlambang…

21 02 2009

Ketika Adam bersalah dan melakukan dosa

Tuhan mengusirnya kedunia

Tiada penutup badan kecuali daun-daun pepohonan

Tiada bekal dibawa kecuali sesal mengharu kalbu

Tatkala kakinya menginjak bumi

Tersungkur dia oleh geraman binatag-binatang buas

Dan kekuatan alampun mempermainkannya

Karena dia begitu lemah

Lapar, dingin dan takut menerpanya

Lalu dia lari ke dalam gua gelap gulita

Adam berpikir tentang dirinya

Betapa lemah, betapa sunyi sendiri

Di suatu tempat yang seluruh penghuninya

Mengejar dan memusuhinya

Tanpa dia tahu sedikitpun rahasianya

Dipandangnya langit

Di sana burung-burung beterbangan

Dipandangnya laut

Di situ ikan-ikan bersenda ria

Dilihatnya bumi

Disitu binatang-binatang buas datang dan pergi

Semua itu membuatnya gembira

Karena disitu dia dapatkan makanan dan tempat berteduh

Dan kini ketakutan hilang dari dirinya

Sesal semakin menyesakkan dadanya

Walau akhirnya dia berhasil menguasai diri

Dia tengadahkan kedua tangannya ke langit

Lalu meratap

Dan langitpun menjawab:

Pergilah wahai laki-laki

Karena aku telah memberimu tangan dan akal

Aku memberimu bumi dan waktu

Pergilah,

Berbuatlah seperti burung-burng

Terbang diangkasa

Menyelamlah di laut seperti ikan

Yang menjelajahi tempat-tempat yang jauh!

Maka Adam pun merenungi dirinya

Akan pintu-pintu rahasia kehidupan

Kini terbuka di depan matanya

Sinar mentari menyibakkan kegelapan gua

Kini jalan ke depan menjadi terang.

== Malik bin Nabi ==





Secret Admirer!

9 02 2009

Ini murni pikiran negatif, semuanya adalah persangkaan yang buruk, tentang orang disekitar yang terus melihat, memantau, memperhatikan semua tingkah orang lain dan perilaku orang lain.

Semua yang berhubungan dengan dirimu akan sangat menarik perhatiannya, bacaanmu, cara kamu berjalan, cara kamu berpikir, semua ucapan yang kamu keluarkan baik secara sengaja dengan melewati proses berfikir dahulu, maupun yang secara tak sengaja meluncur begitu saja.

Tentang buku yang kamu baca, tentang musik yang kamu dengar, tentang kegiatan yang kamu didalamnya berkecimpung, dan hampir semua hal yang berhubungan dengan dirimu, ada satu hal yang saya pikir sangat mengerikan, dimana dia mengenal dirimu lebih dari kamu mengenal diri kamu sendiri (u….. taku…..t ) ; )

Well, itulah dia, seorang pengagum rahasia, dan bagi siapa yang jadi korban, jangan khawatir karena ini semua tidak akan jadi masalah besar selama dia tidak lebih aktif dari anak-anak yang hiperaktif, dan tentunya tidak masuk dalam daerah yang bersinggungan dengan privacy kita semua. Selama dia masih diam-diam, tidak jadi masalah, tapi akan jadi masalah besar kalau dia sudah mulai meresahkan, selama dia masih melihat kita dari jarak yang aman juga belum jadi masalah, sampai dia mulai melihat kita dari jarak hanya sepanjang rol anak sekolahan ho ho ho :d

Kalau misal ada kasus begini, dia tanya kita sama kawan kita yang lain, kemudian kawan kita yang lain tadi jumpa kita, terus dia bilang kalau si dia tanyain kita, kemudian tidak lama berselang kita berjumpa dengan si dia, dan bertanya ada apa dengan gaya yang tidak begitu begok, tapi dia-nya yang malah balik tanya, siapa yang tanyain? Terus dengan alasan yang dibuat-buat katanya si dia berkata tidak ada apa-apa, kalau tidak ada apa-apa untuk apa tanya-tanya segala? Nah, orang seperti ini sudah barang tentu sangat membosankan dan sangat mencurigakan kalau bisa dibilang begitu.

Sebentar, sebentar……

*berpikir kembali*

*mulai berpikir negatif*

Jika demikian kasusnya, berarti dia bukan pengagum rahasia dunk? Berarti dia penasaran dan ingin tahu banyak tentang sepak terjang kita ini, kalau kita tidak pernah kelihatan, dia mulai bertanya-tanya kemana perginya kita, ada apa dengan kita, bisa jadi dia cemburu dengan kita, dia maunya pingen belajar apa yang kita pelajari, ingin bergabung dengan komunitas yang kita ikuti, kadang mencari buku yang sama dengan buka yang sedang kita baca.

Lha bukannya ini bagus? Bukankah ini akan membuat iklim persaingan semakin seru dan panas?

Betul memang, tapi saya tidak pernah menganggap dia sebagai saingan, saya hanya mau dia sebagai kawan. Saya tidak ingin dia bertingkah aneh bin ajaib yang menarik perhatian saya.

*su u zon MOOD=OFF*





Postingan perdana 2009

6 02 2009

Satu bulan lebih saya meninggalkan rumah maya yang sering saya jadikan tempat untuk menampung semua ide-ide yang tidak bisa di katagorikan dalam ide yang brilian, tapi apapun itu, kebaradaan saya mesti berarti dan tidak berhak untuk di rugikan, termasuk oleh saya sendiri.

Mulai dari sederet pameran keangkuhan yang meluluhlantakkan semua asa dan mimpi anak-anak di Gaza, kemudian komentar semua orang yang merasa layak untuk berkomentar dan mengajukan beberapa cara berpikir dan menyampaikan ide tentang penentangan bahkan melegalkan pembunuhan yang sedang terjadi, sampai aksi pro dan kontra yang kian memisahkan jarak antara kebenaran, keadilan dan semua lawan katanya.

Wajar saja kalau ada yang beranggapan kalau hidup penuh keadilan hanya mungkin dengan ber-utopia, tidak salah memang, dalam kondisi yang di lahirkan dengan keadaan ketidak adilan sudah menjadi asupan setiap hembusan nafas, ketika asupan ASI tidak lagi menjadi makanan utama, biaya beli susu juga mahal, praktek ketidak adilan adalah sebuah kelayakan pada saat umur mulai merangkak senja, dengan dalih sabar dan sabar, padahal itu semua tidak ubah satu alat untuk menghibur diri, bumi yang adil adalah utopia.

Tapi, bukanlah hidup kalau tidak ada hitam-putih, tidak ada istilah abu-abu, karena abu-abu bisa di cap pengkhianat bagi kedua belah pihak, kaya-miskin, atasan-bawahan, bersih-kotor, negative-positive, dan ada laki-laki dan wanita.

Untuk apa semua itu?

Katanya untuk saling melengkapi satu sama lain, katanya lagi, dunia bakal tidak nyaman kalau tidak ada keseimbangan, dan lagi katanya, dunia akan kelihatan tidak indah kalau semua yang ada hanyalah sama dalam berbagai hal, apa jadinya kalau di dunia ini hanya ada satu warna, katakanlah merah, bagaimana jadinya?

Bagaimana jadinya kalau Adam hanya sendiri, dan tidak ada Hawa disana? (ya kita-kita bakalan tidak ada dung mas-mbak ho ho ho :D )

Adam akan kesepian, dan akan sangat merana…..

Terima kasih Ibunda Hawa yang telah menemani Ayahanda Adam Surga sana.

NB:

Postingan perdana semenjak keluar dari RS Cut Nyak Dhien, karena takut akan kamatian yang seolah sedang menggedor-gedor kamar kontrakan (mengerikan sekali), dengan gejala akut yang mengerikan, di khawatirkan terserang DBD, akhirnya dengan kemurah-hatian malaikat maut, saya di beri tenggat waktu, kemudian dengan sisa tenaga yang ada saya dilarikan ke Rumah Sakit untuk karantina sesaat :D





Intropeksi akhir tahun

31 12 2008

Baiklah…

Menjelang akhir tahun dan permulaan awal tahun baru, saya sedikit melihat dan banyak mengamati semua kejadian-kejadian yang telah lewat. Dan ini pula yang buat saya sadar diri, kalau ternyata saya tidak ada apa-apanya, sedikit merendah diri tak apalah, karena kebiasaan buruk saya adalah narsis tingkat tinggi.

Mulai dari KKP (Semacam kerja praktek untuk anak kuliahan) yang sudah habis masa aktifnya, massa kuliah yang kekurangan jatah sehari demi sehari, tidak sadar kalau gelar senior itu ternyata tidak selamanya menyenangkan. Beban mental ini…

Kemudian sejenak merenung sudah seberapa dalam pemahaman dan penguasaan materi kuliah yang selama 4 tahun terakhir saya berjibaku dengan buku-buku yang makin lama makin ngeri kelihatannya. Ah.. masih pelik berikutnya adalah masalah semua calon sarjana, apapun itu bidang studi mereka, di republik yang hubungan kerabat dan famili masih jadi prioritas utama untuk mengisi posisi tertentu, maka bisa di pastikan para sarjana yang jadi pengangguran akan membengkak.

Sejenak memang, tapi semuanya nampak jelas, kemampuan yang masih sangat minim+rendah+memprihatinkan, tapi masih saja merasa diri paling pintar, paling tahu banyak hal, paling benar,  padahal kenyataanya jauh pasak dari tiang.

Dan tentunya masih banyak lagi…

Buat semua kru yang ada di manapun, Selamat tahun baru…





4 Tahun Tsunami Aceh, Pelajaran Apa yang didapat?

26 12 2008

tsunamiSeperti roda yang terus bergerak dinamis, mengelinding dan meninggalkan setiap jejak di mana dia lewat, seperti itu pula waktu yang berjalan, menggilas siapa saja dan apa saja, tidak peduli pada sengketa antara seorang tuan dan budaknya, juga tidak mengenal batas usia, semua tidak ada bisa yang menghentikan sang waktu, karena waktu berlalu begitu cepat.

Empat tahun sejak gempa bumi dan gelomang pasang berwarna hitam itu meluluhlantakkan peradaban yang konon katanya telah lama terpengaruhi oleh budaya impor dari negeri entah berantah, negeri yang selama ini hanya mengenal desing peluru dan dentuman bom, tapi semua suara yang memekakkan telinga itu, kalah banyak dengan suara raungan tangis anak-anak yang jadi korban, anak yang jadi saksi atas perilaku keparat aparat terhadap Ayah mereka, di jemput paksa dan bahkan di cabut nyawanya seakan malaikat maut itu.

Belakangan baru orang tahu, kalau bencana itu bernama Tsunami, sebuah istilah yang di adopsi dari ranah yang terkenal dengan keindahan Sakuranya. Gelombang dahsyat itu tidak mengenal belas kasih, semua yang ada di depannya di sapu bersih, sepertinya begitulah titah Tuhan padanya, dunia tersentak dari peraduan mereka, hanya dalam hitungang menit ratusan ribu orang jadi korban, konon katanya bencana ini adalah laknat Tuhan untuk orang-orang Aceh yang seakan mempermainkan syariat dan agama, karena gema syariat yang selama ini di gaungkan di setiap rapat-rapat anggota dewan, di setiap obrolan warung kopi, hanya sebagai guyonan belaka. Qanun-qanun baru tiap saat bisa lahir tergantung mood mereka yang mempunyai kepentingan. Tidak menutup kemungkinan kalau satu saat Aceh ini bisa tercatat di MURI sebagai negeri Seribu Qanun

Tapi begitulah alam berbuat, rupanya bencana besar ini juga membawa berkah sendiri bagi kebanyakan orang Aceh, juga menyisakan selaksa penderitaan yang tidak habis sampai hari ini. Hampir semua orang tahu, setelah bencana ini, Aceh yang selama tiga dekade di dera konflik, terisolasi dan jadi ladang pambantaian selama 10 tahun masa DOM (Daerah Operasi Militer) oleh orang-orang terlaknat dan terkutuk itu, dulu wakatu saya masih mondok, saya diajarkan untuk memberi maaf pada siapapun, juga pada mereka yang mencuilik paksa para guru ngaji kami, dan membunuhnya layak binatang.

Tapi setelah Tsunami, semua mulai berubah, Aceh yang telah hancur selama rentang waktu yang lama, diperparah dengan status “tanah penjagalan” mulai berbenah, perdamaian pun di tanda tangani, saya tidak tahu pasti, diantara kedua belah pihak yang berdamai ini, siapa yang paling bertanggung jawab pada setiap korban, tapi saya keburu melaknat dan mengutuk mereka yang berseragam loreng.

Dan Tsunami sendiri menyisakan masalah baru di Aceh, selain menyisakan sedih yang mendalam, akibat kehilangan orang-orang yang kita cintai, rupanya para korban juga di manfaatkan oleh sekolompok orang untuk lebih bersikap individualis, memperkaya diri tidak peduli pada tetangga, kawan tetap kawan, tapi urusan cari makan jangan di ganggu, rasanya tidak ada tempat untuk para Slankers untuk bersorak Makan tidak makan asal ngumpul.

Hari ini, semua itu tinggal sejarah, yang diperingati tiap tahunnya dengang perayaan yang megah dan mewah, hadir pada acara itu petinggi-petinggi negeri, calon sarjana, ilmuwan dengan semua teori-teori njelimet yang bikin kepala makin mumet, lengkap dengan pakaian mewah berdasi, makanan-makanan rendang, sumur dan khas Aceh lainnya, siapa yang tidak mau makanan yang kelihatan enak itu.

Gedung-gedung di bangun megah, ada yang dikasih nama escape building, ada juga museum Tsunami, orang–orang sepertinya latah, dan berlaku reaktif, cet langet ijo bak malam uroe ( Men-cat langit warna hijau di malam hari). Dana bantuan yang miliaran itu tidak di gunakan pada tempatnya, saya bukan tidak setuju dengan pembangunan gedung-gedung besar dan megah itu, meski ada yang tidak selesai karena kontraktor yang lari, juga yang sekejap berubah jadi rumah hantu. Dengan dalih penelitian dan kesiapan bencana pun saya masih akan tetap mendukung, karena saya tahu maksud dari semua pengambil kebijakan itu baik (saya sedang berpikir positif), semuanya untuk kepentingan orang banyak, wong cilik yang sampai sekarang masih di rumah pengungsian itu agar kelak jika bencana semisal ini datang lagi, kita bisa selamat, begitu prediksi mereka. Tidak ada campur tangan Tuhan di sini, semua berdasarkan pada analisa dan predeksi mereka ilmuwan.

Baik kalau begitu, tapi selesaikan dulu masalah rumah rumah bantuan yang belum selesai untuk korban bencana yang masih tinggal di barak-barak pengungsi, berikan dulu hak mereka, bantuan dana yang becibun datang dari dalam dan luar negeri itu sebenarnya mereka prioritas utama, rumah yang layak huni, lapangan kerja yang memadai, dan pendidikan bagi anak-anak mereka yang menjadi korban.

Tidak seharusnya kita melupakan mereka pada saat dana yang kita ajukan lewat proposal itu cair, tidak pantas rasanya kita harus menggunakan jasa para korban baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal hanya untuk memperkaya diri sendiri dan segelintir sanak-kerabat-handai-taulan.

Rumit memang, sama rumitnya dengan desain bangunan-bangunan megah yang dilabeli meseum itu, tapi bagi seorang insyisur, desain yang rumit akan kelihatan lebih menantang, begitu juga dengan sekulumit masalah social-ekonomi yang terjadi di Aceh, mulai masalah rumah untuk pengungsi, sekolah bagi korban bencana, dan penghidupan yang layak, semua itu butuh kerja keras semua pihak yang terlibat di dalamnya, semua rumit tapi akan tampak lebih rumit kalau yang menanganinya adalah orang-orang yang bermental korup, hanya mementingkan diri sendiri.

Terakhir……

Buat semua orang tua, kakak, abang, adek dan kawan-kawan seangkatan yang telah meninggalkan kami, ada satu keyakinan dalam hati, kalau kalian semua masih tetap kami ingat dalam setiap gerak napak tilas hidup kami, pengorbanan kalian akan di ceritakan pada setiap anak cucu generasi ke depan, kalian semua akan tetap menjadi pahlawan dan orang-orang yang kami cintai.

Kami tahu, kalian tidak pernah mengharapkan pujian dan sanjungan, meski monument dan museum di bangun megah dengan alasan untuk mengingat jasa kalian para korban, meski nama kalian di perjual belikan hanya untuk memperkaya yang sudah kaya, sehingga makin melebarkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Tapi satu hal yang saya ketahui, nun jauh di sana, hilang sudah semua prasangka, musnah sudah semua hasrat memperkaya diri, pupus sudah semua mimpi-mimpi intrukstur motivasi yang menjajakan dagangannya lewat janji-janji hidup senang dalam waktu singkat. Tidak akan pernah ada jalan pintas. Dan tidak akan adalagi pengkhianatan di sana, tunggu saya di sana….

Saudaraku semuanya, maafkan saya karena tidak bisa berbuat banyak melihat semua ini, saya pada satu waktu juga ikut terbawa gelombang hasrat mereka yang menawarkan segala bentuk kamajuan, kemewahan, kecanggihan dan penghidupan yang layak untuk mereka sendiri. Seminar-seminar bertaraf internasional pun mereka selenggarakan, dan saya…. Hanya bisa duduk manis sebagai peserta dan pendengar budiman, tapi yakinlah saudaraku…. di sini, di dalam hati saya berontak…. dan berdoa….

Selalu dalam kenangan……

  1. Pak Adli Ph.D(Staf Dosen Fisika)
  2. As’adi (2001)
  3. Sriwahyuni (2002)
  4. Andreani Nur (2002)
  5. Suryani (2002)
  6. Milamayasari (2002)
  7. Maimunah (2002)
  8. Zakaria a.k.a Jack (2003)
  9. Mardani (2003)
  10. Manda (2003)
  11. Nurul (2003)
  12. Srimulyani (2003)
  13. Lisdan (2004)
  14. Pina (2004)
  15. Nunung (2004)
  16. Atoen (2004)

Dan kawan-kawan yang tidak saya sebutkan namanya dalam list ini…. kalian semua akan selalu kami ingat….

Postingan terkait.

Refleksi 4 Tahun Tsunami…

Mengenanng 4 tahun Tragedi Gempa dan Tsunami di Aceh

26 Desember 2008: 4 Tahun Tsunami





Ibu….

23 12 2008

Kalau ada orang yang bertanya, siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya, tidak perlu berpikir lama, karena jawabannya adalah Ibu saya.

Jika di tanya siapa orang yang paling kamu kagumi dalam hidup yang sangat singkat dan harus dijadikan seberarti mungkin, jawabnya juga Ibu….

Karena bagi saya, Ibu adalah inspirasi dalam kekosongan ide, Ibu adalah kekuatan jiwa yang selalu ada di dalam hati, karena Ibu bagi saya adalah pelipur lara kala sedih….

Ah…. kata mereka kemaren itu hari Ibu, tapi bagi saya setiap hari adalah hari Ibu, tidak peduli apa tanggal 22 atau tanggal 40 sekalipun, Ibu tetaplah Ibu selamanya, setiap hari dan tidak pada satu hari tertentu saja.

Hormat takzim untuk mu Ibunda tercitnta… dimana dikau berada, dalam alam manapun engkau berada, akan selalu ada sisa di ruang hati ku untuk dirimu Ibu… tidak akan pernah bisa tergantikan oleh yang manapun jua…

Sekali lagi hormat takzim buat seluruh Ibunda yang ada di dunia ini.





Saya dan Partai Politik

7 11 2008

Bukan ahli politik, tidak juga terdaftar sebagai salah satu anggota atau simpatisan golongan politik tertentu saat ini, saya masih ingin menikmati status dan kesendirian, dengan semua akumulasi sesak pendapat dan argumen mereka yang merasa berhak untuk mewakili orang lain, dengan mengatas namakan perjuangan dan hak asasi manusia namun melupakan kewajiban asasi manusia, mereka maju kehadapan, berteriak lantang kalau mereka adalah salah satu dari sekian banyak orang yang akan menacatat sejarah sebagai orang yang paling banyak manfaatnya.

Untuk saat ini, saya benar benar tidak mempunyai pilihan untuk mengancungkan tangan, kemudian mengatakan kalau saya adalah bagian dari kelompok ini, dari partai ini, atau mungkin dari golongan ini, saya masih bingung dengan semua yang saya lihat, benar adanya kalau otak manusia itu memang rapuh, tidak bisa mengambil satu keputusan yang bebas moral, bebas dari segala bidang kehidupan yang pernah di lalui pada detik waktu terdahulu. Ada saja yang mempengaruhi setiap pengambilan keputusan di lakukan, bisa jadi sosial, agama, ekonomi terakhir mood ( kalau yang ini saya ragu ^_^ ).

Melihat giatnya aktivitas setiap partai di negeri saya ini, terlebih partai lokal yang kerap kali menunjukkan sikap pemborosan bagi saya, tak jarang sikap arogansi tak sungkan di pamerkan, setiap orang bisa menggunakan semua milik mereka sesuai dengan kemauan mereka pribadi, tapi pada saat meminjam nama rakyat, maka sudah selayaknya kita kembali berbenah, rakyat yang mana yang di perjuangkan, lantas di mana suara suara itu pada saat rakyat yang dulu jadi sasaran utama kampanye jadi ugal ugalan aparat satpol PP, tempat mereka mencari penghidupan agar dapat berkepul asap dapur mereka. Dengan dalih ketertiban dan entah apa lagi, setiap jengkal jalan tempat mereka menggelar lapak dagangan harus rela di gusur, bahkan tak jarang tindak anarkispun di perlihatkan, seolah ingin mengatakan kalau merekalah yang paling benar.

Seorang pemimpin di pilih untuk memimpin dan dalam kepemimpinannya dia datang untuk memberi dan tidak untuk mengambil, perilakunya harus transparan, begitu cuplikan tulisan Bapak B.J Habibie dalam bukunya Detik-detik yang menentukan: Jalan panjang Indonesia menuju Demokrasi.

Baiklah, sekarang kita singkirkan semua prasangka dan praduga miring terhadap mereka yang merasa layak untuk jadi martir utama dalam membela nasib rakyat, lewat jalur parlemen mereka bisa menyampaikan semua aspirasi masyarakat kelas bawah, dan di harapkan dalam waktu yang relative singkat bisa segera di selesaikan.

Lalu apa hubungan saya dengan politik?

Sejauh ini belum ada hubungan yang berarti selain hubungan sebagai seorang masyarakat kecil, dan orang yang merasa berhak untuk tahu siapa yang sedang berjuang di sana untuk menyelamatkan kami orang kecil dan awam ini.

Kalau di beri kesempatan untuk memilih, partai mana yang akan di pilih?

Sebenarnya saya memilih golput, walaupun beberapa orang sahabat saya menyarankan agar saya memilih yang paling sedikit mudharatnya, tapi tidak menutup kemungkinan kalau golput salah satu dari sekian banyak pilihan yang memiliki mudharat paling minimal. Mungkin ada yang berpendapat lain? Itusih hak mereka, sejak lensernya Orde Baru dan di mulainya babak baru era Reformasi dalam tahun 1998, kebebesan sudak menjadi hak setiap orang, kebebasan untuk berbendapat, kebebasan untuk mendirikan Partai Politik, Organisasi, LSM, dan kebebasan pers, tentu tanpa melangkahi kodrat Kewajiban asasi manusia.

Kenapa memilih golput? Apakah separah itukah ketidakpercayaan saya terhadap semua partai politik yang ada di negeri saya ini? Padahal partai lokal yang ada di Aceh ini baru saja ada, kemungkinan mereka benar masih terbuka peluang, selama ini yang mengurusi masalah di daerah kebanyakan bukan putra daerah, padahal kalau saja di berikan kesempatan kepada mereka, tidak menutup kemungkinan kalau mereka bakalan berhasil berjuang atas nama rakyat.

Baiklah, kita lihat nanti ke depan, sekarang bukan bicara yang membuktikan tapi bukti yang akan membicarakan, layaknya sejarah yang berbicara tentang mereka yang terekam dalam lipatan waktu, mereka yang berjuang sekarang di tanah kelahiran saya ini juga akan di lipat oleh waktu, untuk kemudian menjadi bagian sejarah yang akan di abadikan dengan tinta baik atau buruk dalam lembaran kehidupan anak cucu ke depan. Mungkin akan di ajarkan disekolah sekolah dasar, tentang kesadaran berpolitik, etika berpolitik, kampanye hitam, dan segudang istilah-istilah politik lainnya.

Untuk saat ini, saya hanya mengamati, kadang memandang sinis, sesekali ketawa cekikikan, di lain waktu hampir mati berdiri karena di kuasai marah, adegan demi adegan hidup terekam begitu cepat dan jelas, saya hampir tidak percaya kalau lingkungan yang selama ini saya ’tinggalkan’ ternyata menyimpan begitu banyak luka dan lara, secupak ria dan tawa, segudang janji dan harapan, selaksa mimpi orang orang yang kurang tidur malamnya.

Sampai kapan? Sampai Malaikat Maut menuai panen kehidupan dengan sabit tuanya. Ya… hanya Kematian yang bisa menghentikan mereka semua.