Seperti roda yang terus bergerak dinamis, mengelinding dan meninggalkan setiap jejak di mana dia lewat, seperti itu pula waktu yang berjalan, menggilas siapa saja dan apa saja, tidak peduli pada sengketa antara seorang tuan dan budaknya, juga tidak mengenal batas usia, semua tidak ada bisa yang menghentikan sang waktu, karena waktu berlalu begitu cepat.
Empat tahun sejak gempa bumi dan gelomang pasang berwarna hitam itu meluluhlantakkan peradaban yang konon katanya telah lama terpengaruhi oleh budaya impor dari negeri entah berantah, negeri yang selama ini hanya mengenal desing peluru dan dentuman bom, tapi semua suara yang memekakkan telinga itu, kalah banyak dengan suara raungan tangis anak-anak yang jadi korban, anak yang jadi saksi atas perilaku keparat aparat terhadap Ayah mereka, di jemput paksa dan bahkan di cabut nyawanya seakan malaikat maut itu.
Belakangan baru orang tahu, kalau bencana itu bernama Tsunami, sebuah istilah yang di adopsi dari ranah yang terkenal dengan keindahan Sakuranya. Gelombang dahsyat itu tidak mengenal belas kasih, semua yang ada di depannya di sapu bersih, sepertinya begitulah titah Tuhan padanya, dunia tersentak dari peraduan mereka, hanya dalam hitungang menit ratusan ribu orang jadi korban, konon katanya bencana ini adalah laknat Tuhan untuk orang-orang Aceh yang seakan mempermainkan syariat dan agama, karena gema syariat yang selama ini di gaungkan di setiap rapat-rapat anggota dewan, di setiap obrolan warung kopi, hanya sebagai guyonan belaka. Qanun-qanun baru tiap saat bisa lahir tergantung mood mereka yang mempunyai kepentingan. Tidak menutup kemungkinan kalau satu saat Aceh ini bisa tercatat di MURI sebagai negeri Seribu Qanun
Tapi begitulah alam berbuat, rupanya bencana besar ini juga membawa berkah sendiri bagi kebanyakan orang Aceh, juga menyisakan selaksa penderitaan yang tidak habis sampai hari ini. Hampir semua orang tahu, setelah bencana ini, Aceh yang selama tiga dekade di dera konflik, terisolasi dan jadi ladang pambantaian selama 10 tahun masa DOM (Daerah Operasi Militer) oleh orang-orang terlaknat dan terkutuk itu, dulu wakatu saya masih mondok, saya diajarkan untuk memberi maaf pada siapapun, juga pada mereka yang mencuilik paksa para guru ngaji kami, dan membunuhnya layak binatang.
Tapi setelah Tsunami, semua mulai berubah, Aceh yang telah hancur selama rentang waktu yang lama, diperparah dengan status “tanah penjagalan” mulai berbenah, perdamaian pun di tanda tangani, saya tidak tahu pasti, diantara kedua belah pihak yang berdamai ini, siapa yang paling bertanggung jawab pada setiap korban, tapi saya keburu melaknat dan mengutuk mereka yang berseragam loreng.
Dan Tsunami sendiri menyisakan masalah baru di Aceh, selain menyisakan sedih yang mendalam, akibat kehilangan orang-orang yang kita cintai, rupanya para korban juga di manfaatkan oleh sekolompok orang untuk lebih bersikap individualis, memperkaya diri tidak peduli pada tetangga, kawan tetap kawan, tapi urusan cari makan jangan di ganggu, rasanya tidak ada tempat untuk para Slankers untuk bersorak Makan tidak makan asal ngumpul.
Hari ini, semua itu tinggal sejarah, yang diperingati tiap tahunnya dengang perayaan yang megah dan mewah, hadir pada acara itu petinggi-petinggi negeri, calon sarjana, ilmuwan dengan semua teori-teori njelimet yang bikin kepala makin mumet, lengkap dengan pakaian mewah berdasi, makanan-makanan rendang, sumur dan khas Aceh lainnya, siapa yang tidak mau makanan yang kelihatan enak itu.
Gedung-gedung di bangun megah, ada yang dikasih nama escape building, ada juga museum Tsunami, orang–orang sepertinya latah, dan berlaku reaktif, cet langet ijo bak malam uroe ( Men-cat langit warna hijau di malam hari). Dana bantuan yang miliaran itu tidak di gunakan pada tempatnya, saya bukan tidak setuju dengan pembangunan gedung-gedung besar dan megah itu, meski ada yang tidak selesai karena kontraktor yang lari, juga yang sekejap berubah jadi rumah hantu. Dengan dalih penelitian dan kesiapan bencana pun saya masih akan tetap mendukung, karena saya tahu maksud dari semua pengambil kebijakan itu baik (saya sedang berpikir positif), semuanya untuk kepentingan orang banyak, wong cilik yang sampai sekarang masih di rumah pengungsian itu agar kelak jika bencana semisal ini datang lagi, kita bisa selamat, begitu prediksi mereka. Tidak ada campur tangan Tuhan di sini, semua berdasarkan pada analisa dan predeksi mereka ilmuwan.
Baik kalau begitu, tapi selesaikan dulu masalah rumah rumah bantuan yang belum selesai untuk korban bencana yang masih tinggal di barak-barak pengungsi, berikan dulu hak mereka, bantuan dana yang becibun datang dari dalam dan luar negeri itu sebenarnya mereka prioritas utama, rumah yang layak huni, lapangan kerja yang memadai, dan pendidikan bagi anak-anak mereka yang menjadi korban.
Tidak seharusnya kita melupakan mereka pada saat dana yang kita ajukan lewat proposal itu cair, tidak pantas rasanya kita harus menggunakan jasa para korban baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal hanya untuk memperkaya diri sendiri dan segelintir sanak-kerabat-handai-taulan.
Rumit memang, sama rumitnya dengan desain bangunan-bangunan megah yang dilabeli meseum itu, tapi bagi seorang insyisur, desain yang rumit akan kelihatan lebih menantang, begitu juga dengan sekulumit masalah social-ekonomi yang terjadi di Aceh, mulai masalah rumah untuk pengungsi, sekolah bagi korban bencana, dan penghidupan yang layak, semua itu butuh kerja keras semua pihak yang terlibat di dalamnya, semua rumit tapi akan tampak lebih rumit kalau yang menanganinya adalah orang-orang yang bermental korup, hanya mementingkan diri sendiri.
Terakhir……
Buat semua orang tua, kakak, abang, adek dan kawan-kawan seangkatan yang telah meninggalkan kami, ada satu keyakinan dalam hati, kalau kalian semua masih tetap kami ingat dalam setiap gerak napak tilas hidup kami, pengorbanan kalian akan di ceritakan pada setiap anak cucu generasi ke depan, kalian semua akan tetap menjadi pahlawan dan orang-orang yang kami cintai.
Kami tahu, kalian tidak pernah mengharapkan pujian dan sanjungan, meski monument dan museum di bangun megah dengan alasan untuk mengingat jasa kalian para korban, meski nama kalian di perjual belikan hanya untuk memperkaya yang sudah kaya, sehingga makin melebarkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.
Tapi satu hal yang saya ketahui, nun jauh di sana, hilang sudah semua prasangka, musnah sudah semua hasrat memperkaya diri, pupus sudah semua mimpi-mimpi intrukstur motivasi yang menjajakan dagangannya lewat janji-janji hidup senang dalam waktu singkat. Tidak akan pernah ada jalan pintas. Dan tidak akan adalagi pengkhianatan di sana, tunggu saya di sana….
Saudaraku semuanya, maafkan saya karena tidak bisa berbuat banyak melihat semua ini, saya pada satu waktu juga ikut terbawa gelombang hasrat mereka yang menawarkan segala bentuk kamajuan, kemewahan, kecanggihan dan penghidupan yang layak untuk mereka sendiri. Seminar-seminar bertaraf internasional pun mereka selenggarakan, dan saya…. Hanya bisa duduk manis sebagai peserta dan pendengar budiman, tapi yakinlah saudaraku…. di sini, di dalam hati saya berontak…. dan berdoa….
Selalu dalam kenangan……
- Pak Adli Ph.D(Staf Dosen Fisika)
- As’adi (2001)
- Sriwahyuni (2002)
- Andreani Nur (2002)
- Suryani (2002)
- Milamayasari (2002)
- Maimunah (2002)
- Zakaria a.k.a Jack (2003)
- Mardani (2003)
- Manda (2003)
- Nurul (2003)
- Srimulyani (2003)
- Lisdan (2004)
- Pina (2004)
- Nunung (2004)
- Atoen (2004)
Dan kawan-kawan yang tidak saya sebutkan namanya dalam list ini…. kalian semua akan selalu kami ingat….
Postingan terkait.
Refleksi 4 Tahun Tsunami…
Mengenanng 4 tahun Tragedi Gempa dan Tsunami di Aceh
26 Desember 2008: 4 Tahun Tsunami
komentar terakhir