Liza-Kuthidhieng

15 11 2009

liza-kuthidhieng

Kuthidhieng, entah apa artinya ini, sejak pertama mendengar salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Liza, salah satu mahasiwa FKIP di salah satu perguruan tinggi di Banda Aceh, saya sudah langsung penasaran dengan liriknya, disamping alunan musik yang kentara tradisional, lagu yang dibawakan oleh Liza yang pernah bergabung dengan salah satu sanggar seni ini, juga menggunakan instrument modern, tidak salah kalau sejak pertama didengar, lagu ini jadi satu dari sekian kecil lagu Aceh yang saya kagumi.

Disamping iramanya, ada satu hal menarik dari lagu ini, yakni lirik-lirik yang dibawakan oleh dara Aceh kelahiran 1986 ini sangat kentara aroma mejisnya, dari sekian banyak lirik yang diucapkan, hanya ada beberapa bagian kecil  kalimat yang saya ngerti, selebihnya, adalah nihil, barangkali saya tergolong dari sebagian generasi muda yang melupakan sejarah, terutama sekali sejarah bahasa indatu mereka.

Rasa penasaran saya juga yang membawa saya pada Paman Gu, saya penasaran dengan lirik dan video clip lagu ini, dan hasilnya …… benar saja, dalam setiap jengkal liriknya, aroma magic tidak bisa dilepaskan.

Dibeberapa daerah Aceh, apalagi di pedalaman daerah Aceh, ilmu bela diri dengan menggunakan doa-doa yang diucap komat kamit bukan barang mustahil, dalam ucapan-ucapan yang dilafalkan itu, tidak jarang ada kalimat-kalimat yang entah dari bahasa apa adanya, sebagian ada dari bahasa daerah pedalaman, seperti dalam lirik lagu ini, ada juga beberapa kalimat yang dijadikan perumpamaan, ilmu bela diri klasik ini, tidak bisa dibilang isapan jempol belaka, bagi sebagian orang, fenomena ini, menjurus sirik, dan bagi sebagian orang, ini fenomena yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, kecuali bagi mereka yang melihat kejadian ini dengan mata kepala sendiri.

Seperti ada penyatuan raga dengan kekuatan semesta disini, kurang lebih hampir sama dengan konsep wihdatul wujud-nya Hallaj, kalau kembali ke sejarah masa lalu, di Aceh, Hamzah Fansuri menjadi ulama yang meyakini konsep wihdatul wujud ini, sejarah tentang Hamzah Fansuri dan pertikaian dengan Nurruddin Arraniry, konon katanya tidak terlepas dari intrik politik pada masa itu.

Di akhir klip, saya diingatkan pada sosok Rumi, dengan tarian khasnya, setidaknya, dengan adanya lagu ini, saya bisa kembali ingat tentang sejarah, dan tentang sedikitnya pemahaman saya tentang daerah yang saya tinggali sekarang.

Tentu setiap daerah punya ciri khas masing-masing, itu pula yang membuat Negara ini, menjadi salah satu Negara yang paling banyak kekayaan budayanya, maka tidak heran kalau banyak tetangga kita yang tidak senang melihat rumput kita punya lebih hijau dari yang mereka punya, ah semoga ungkapan ini tidak berlebihan.

Sampai sekarang, maksud dari Kuthidieng masih jadi pekerjaan rumah buat saya…, berikut cuplikan lagunya. Enjoy….!

Credit gambar

Forum Aceh

 


Actions

Information

3 responses

17 11 2009
itikkecil

saya suka lagu ini…..

17 11 2009
zephyr

sebuah lagu yang bagus.. meski tak mengerti bahasanya :)

20 11 2009
eliabintang

hidin hala hala haiding.. bahasa apaan nih haha :lol:

salam kenal yah!

Leave a comment