
Waktu malam, gelap di bawah sinar bulan, menjajah siang, ditemani sinar matahari, dalam dada dan pikiran, semua kemauan dan keinginan, kebutuhan dan hanya sekedar keinginan, ternyata semua gejolak jiwa dan arus pikiran terlintas, tidak kokoh, hanya rapuh.
Hitam legap wajah dan hati, dalam setiap waktu yang terlewati, dengan cinta dan dengan nafsu angkara murka, dengan tetesan api yang sudah tidak lagi bisa menerangi lorong yang sempit, bahkan tidak ada satupun malam yang tersinari. Dengan percikan air tidak lagi mendinginkan, tidak pula menghidupkan, atawa menghancurkan.
Manusia, semua hasrat, mimpi, cita-cita, dan nafsu adalah rapuh dengan hadirnya dalam panggung semesta. Karena manusia hanya rapuh, jiwa, raga, pikiran, semuanya rapuh. Selayaknya tulang yang dimakan masa, keropos, manusiapun keropos dalam kemajemukannya, keberadaannya sebagai tanda bahwa dia adalah kerapuhan.
Pendiriannya mereka juga teramat rapuh, sulit benar memegang sikap, tingkah laku, sesekali ucapan yang keluar dari makhluk yang bernama manusia, tidak kokoh adanya, lemah selembut kapas, mudah berubah dan dinamis, karena manusia, sekali lagi adalah rapuh.
NB: Intropeksi akhir bulan
Credit gambar dari sini
Ya.. ya.. Manusia memang rapuh. Bahkan blogger juga rapuh. Selamat memasuki Oktober, semoga masih ada hasrat, mimpi, cita-cita, dan nafsu yang bakal kesampaian…
Semoga hasrat itu masih terus ada sampai akhir Desember ini hehe
rapuh sekali memang, bahkan blogger-pun tidak luput dari kerapuhan.
di titik rapuh itu mungkin kita bisa mendapatkan kekuatan
Biasanya begitu sahabat, pada titik tertentu kita butuh pengumpulan kekuatan baru.
Jika memang kita temukan kerapuhan di satu sisi, boleh jadi kita temukan kekuatan di sisi lain. Jangan pernah merasa puas berhenti di satu sisi sebelum kita benar-benar yakin telah menjelajahi semesta sisi. Kadang yang kita butuhkan , sekedar beristirat sejenak sambil menikmati indahnya pemandangan . Setelah itu mari kita berjalan lagi, karena sepertinya perjalanan kita masih panjang…
* sok tau mode on *
Rapuh…
Nyaris patah jika terus dipaksa
Mungkin itulah saatnya berhenti sementara
Membiarkan hati menguatkan diri
Supaya bisa melanjutkan perjalanan kembali
*sok puitis*
Salam kenal juga