
Namanya Jafrud, kawan sekelas saya dulu waktu masih berseragam merah putih, tapi sepertinya dia kelihatan lebih tua dari umurnya. Tampak jelas dari air mukanya kalau dia memang seorang pekerja keras, setelah ditinggal pergi ayahnya ketika masih berumur kurang lebih 13 tahun, dan semua tanggung jawab seorang ayah jatuh pada ibunya tercinta, yang mungkin bagi sebagian orang, ibu adalah bagian yang tidak akan pernah bisa terpisahkan atau bahkan menjadi inspirasi sendiri, dia bukan anak laki satu satunya, masih ada abangnya,dua orang yang lebih tua dari dia, saya dan mereka masih ada ikatan famili jarak agak sedikit dekat.
Beberapa waktu yang lalu, dia datang ke Banda untuk mengurusi surat pesiunan ayahnya untuk dialihkan ke adek yang perempuan, dia banyak bercerita tentang aktivitas nya selama di Langsa (kira kira 8 jam perjalanan dari Banda aceh), tentang kawan kawan seangkatan dulu waktu di SD, dan juga tentang masa depan yang kian hari kian tak menentu arahnya, juga tentang mimpi yang terkubur sebelum pagi datang, kering bersama keringnya embun pagi, saya hanya bisa diam dan mengangguk-nganggkuk pada saat beberapa kalimat meluncur dari mulutnya, ”bukan aku ga ada niat bisa kuliah seperti kalian. Aku Cuma harus menerima kenyataan yang sangat berlawanan dengan rencana dan angan masa kecil ku, ketika aku di hadapkan pada dua pilihan akan masa depan, pilih kuliah kebanda tapi ibunda tercinta tak bisa biaya biaya pendidikan sampai kelar atau kuliah di dekat sini sambil honor honor di kantor tempat ibunda nya bekerja.
Sebagai seorang anak, saya bisa pastikan pilihan kedua yang akan dia putuskan. Dan ternyata memang benar, dan jalan hidup yang telah di pilihnya itu jualah yang akan menjadikan dia kuat dalam hampir segala kondisi.
Ada satu hal yang bikin saya agak sedikit terkejut, dan ini pula yang akan jadi inti dari cerita saya kali ini, menulis setahun sekali tak apalah yang penting ada dari pada tak pernah sama sekali, atau menghilang dan mencoba untuk pura pura hilang barangkali menjadi pilihan sebagian orang.
Ceritanya begini, dia ajukan dua pertanyaan dasar, yang selanjutnya di ikuti dengan penjelasan penjelasan yang sangat rasional bagi saya, kalau ada orang yang tanya kapan kalian kawin? Kamu jawab apa? Satu lagi kalau saya gak salah, apa kalian gak takut entar kalau udah kawin gak bisa kasih makan anak orang, karena perkara kawin ini bukan perkara sehari dua hari, tapi urusan sampai beranak cucu.
Ok kawan, inilah paparan kawan ku….
Kalau kalian kawin/ nikah atau apalah nama pada usia muda kalian bakal punya kesempatan yang panjang untuk cari duit, terlepas rezeki itu ada yang ngatur, sedangkan kalau kalian kawin di usia yang sudah agak sedikit tua, dikhawatirkan kalian gak akan sanggup untuk bekerja, mungkin di karena kondisi tubuh yang sudah menunggu giliran panggilan malaikat Israil.
Belum lagi kalau kalian perokok berat, mau tidak mau kalian akan sakit, kemudian masuk rumah sakit, terbaring dengan selang infus menembus daging dan mengalir seirama dengan aliran darah kalian, lantas siapa yang akan mengurus keluarga kalian?
Lalu saya tanya, lah kamu sendiri kapan?
Doakan, masih dengan senyum kemenangan dia menjelaskan, dalam waktu dekat saya akan mendahului kalian.
Coba kalian hitung-hitung, katakanlah kalian kawin di umur 29 atau 30-an, kemudian hidup sudah tidak berdua lagi, kalian bakal ada anak, anak pertama umur 6 tahun disekolahkan, umur kalian sudah bertambah 6 tahun, berarti 35 tahun, SMP 3 tahun plus SMU 3 tahun, kemudian kalau dia ingin melanjutkan hingga jenjang yang lebih tinggi, semisal kuliah, butuh waktu 4 sampai 7 tahun.
Tambahkan 35 dengan 3 tahun pertama kemudian 3 tahun kedua, umur semakin bertambah jadi 41 tahun, hohohoho
baru kelar SMU kalian sudah berkepala 4, katakanlah anak kalian tadi kuliah dan selesai 7 tahun, karena sedikit aktif di organisasi-organisasi macam Bapaknya ini, setengah mengejek, maka semakin tualah kalian, 48 tahun.
Dengan gaya orang yang paling berpengalaman, dia melanjutkan paparannya tentang teorinya yang terdengar baru bagi saya, ”Dan aku bisa pastikan, kalau dalam keluarga kalian nantinya, tidak hanya akan ada tiga orang insan, minimal empat satu keluarga, itupun kalau ikutan KB, tapi kalaupun tidak ikutan program pengentasan kemiskinan itu, saya berdoa semoga kalian diberi kekuatan lebih dalam mencukupi kelurga kalian, dan semoga kalian sehat-sehat saja.”
Topik bergeser, dari logika kawin, ke susahnya urusan birokrasi, dia muntab. Dan diskusi mengalir dari satu titik ketitik lainnya sampai lartu malam.
Kawan dengarkan logika kawan saya tentang kawin muda atau apalah nama, pikiran yang belum pernah atau lebih tepatnya tak pernah saya pikirkan akhir-akhir ini, barangkali ini terjadi akibat keseringan berkutat dengan dunia ketiga yang saya sendiri kadang tidak pernah bisa paham dengan apa yang sedang saya hadapi dan pikirkan, kesadaran macam timbul tenggelam gitu, dan terakhir dikarenakan buku buku fisika yang kian lama kian tersasa kengeriannya.
Yang menarik bagi saya adalah matematika kawin, macam mahasiswa yang menjelaskan analisa dan dugaan sementara tentang topik tugas akhirnya.
Lalu? Kapan kawin?
Mari kita menganalisa dan membuat dugaan-dugaan sementara tentang topik ini
komentar terakhir