Postingan perdana 2009

6 02 2009

Satu bulan lebih saya meninggalkan rumah maya yang sering saya jadikan tempat untuk menampung semua ide-ide yang tidak bisa di katagorikan dalam ide yang brilian, tapi apapun itu, kebaradaan saya mesti berarti dan tidak berhak untuk di rugikan, termasuk oleh saya sendiri.

Mulai dari sederet pameran keangkuhan yang meluluhlantakkan semua asa dan mimpi anak-anak di Gaza, kemudian komentar semua orang yang merasa layak untuk berkomentar dan mengajukan beberapa cara berpikir dan menyampaikan ide tentang penentangan bahkan melegalkan pembunuhan yang sedang terjadi, sampai aksi pro dan kontra yang kian memisahkan jarak antara kebenaran, keadilan dan semua lawan katanya.

Wajar saja kalau ada yang beranggapan kalau hidup penuh keadilan hanya mungkin dengan ber-utopia, tidak salah memang, dalam kondisi yang di lahirkan dengan keadaan ketidak adilan sudah menjadi asupan setiap hembusan nafas, ketika asupan ASI tidak lagi menjadi makanan utama, biaya beli susu juga mahal, praktek ketidak adilan adalah sebuah kelayakan pada saat umur mulai merangkak senja, dengan dalih sabar dan sabar, padahal itu semua tidak ubah satu alat untuk menghibur diri, bumi yang adil adalah utopia.

Tapi, bukanlah hidup kalau tidak ada hitam-putih, tidak ada istilah abu-abu, karena abu-abu bisa di cap pengkhianat bagi kedua belah pihak, kaya-miskin, atasan-bawahan, bersih-kotor, negative-positive, dan ada laki-laki dan wanita.

Untuk apa semua itu?

Katanya untuk saling melengkapi satu sama lain, katanya lagi, dunia bakal tidak nyaman kalau tidak ada keseimbangan, dan lagi katanya, dunia akan kelihatan tidak indah kalau semua yang ada hanyalah sama dalam berbagai hal, apa jadinya kalau di dunia ini hanya ada satu warna, katakanlah merah, bagaimana jadinya?

Bagaimana jadinya kalau Adam hanya sendiri, dan tidak ada Hawa disana? (ya kita-kita bakalan tidak ada dung mas-mbak ho ho ho :D )

Adam akan kesepian, dan akan sangat merana…..

Terima kasih Ibunda Hawa yang telah menemani Ayahanda Adam Surga sana.

NB:

Postingan perdana semenjak keluar dari RS Cut Nyak Dhien, karena takut akan kamatian yang seolah sedang menggedor-gedor kamar kontrakan (mengerikan sekali), dengan gejala akut yang mengerikan, di khawatirkan terserang DBD, akhirnya dengan kemurah-hatian malaikat maut, saya di beri tenggat waktu, kemudian dengan sisa tenaga yang ada saya dilarikan ke Rumah Sakit untuk karantina sesaat :D