Saya dan Partai Politik

7 11 2008

Bukan ahli politik, tidak juga terdaftar sebagai salah satu anggota atau simpatisan golongan politik tertentu saat ini, saya masih ingin menikmati status dan kesendirian, dengan semua akumulasi sesak pendapat dan argumen mereka yang merasa berhak untuk mewakili orang lain, dengan mengatas namakan perjuangan dan hak asasi manusia namun melupakan kewajiban asasi manusia, mereka maju kehadapan, berteriak lantang kalau mereka adalah salah satu dari sekian banyak orang yang akan menacatat sejarah sebagai orang yang paling banyak manfaatnya.

Untuk saat ini, saya benar benar tidak mempunyai pilihan untuk mengancungkan tangan, kemudian mengatakan kalau saya adalah bagian dari kelompok ini, dari partai ini, atau mungkin dari golongan ini, saya masih bingung dengan semua yang saya lihat, benar adanya kalau otak manusia itu memang rapuh, tidak bisa mengambil satu keputusan yang bebas moral, bebas dari segala bidang kehidupan yang pernah di lalui pada detik waktu terdahulu. Ada saja yang mempengaruhi setiap pengambilan keputusan di lakukan, bisa jadi sosial, agama, ekonomi terakhir mood ( kalau yang ini saya ragu ^_^ ).

Melihat giatnya aktivitas setiap partai di negeri saya ini, terlebih partai lokal yang kerap kali menunjukkan sikap pemborosan bagi saya, tak jarang sikap arogansi tak sungkan di pamerkan, setiap orang bisa menggunakan semua milik mereka sesuai dengan kemauan mereka pribadi, tapi pada saat meminjam nama rakyat, maka sudah selayaknya kita kembali berbenah, rakyat yang mana yang di perjuangkan, lantas di mana suara suara itu pada saat rakyat yang dulu jadi sasaran utama kampanye jadi ugal ugalan aparat satpol PP, tempat mereka mencari penghidupan agar dapat berkepul asap dapur mereka. Dengan dalih ketertiban dan entah apa lagi, setiap jengkal jalan tempat mereka menggelar lapak dagangan harus rela di gusur, bahkan tak jarang tindak anarkispun di perlihatkan, seolah ingin mengatakan kalau merekalah yang paling benar.

Seorang pemimpin di pilih untuk memimpin dan dalam kepemimpinannya dia datang untuk memberi dan tidak untuk mengambil, perilakunya harus transparan, begitu cuplikan tulisan Bapak B.J Habibie dalam bukunya Detik-detik yang menentukan: Jalan panjang Indonesia menuju Demokrasi.

Baiklah, sekarang kita singkirkan semua prasangka dan praduga miring terhadap mereka yang merasa layak untuk jadi martir utama dalam membela nasib rakyat, lewat jalur parlemen mereka bisa menyampaikan semua aspirasi masyarakat kelas bawah, dan di harapkan dalam waktu yang relative singkat bisa segera di selesaikan.

Lalu apa hubungan saya dengan politik?

Sejauh ini belum ada hubungan yang berarti selain hubungan sebagai seorang masyarakat kecil, dan orang yang merasa berhak untuk tahu siapa yang sedang berjuang di sana untuk menyelamatkan kami orang kecil dan awam ini.

Kalau di beri kesempatan untuk memilih, partai mana yang akan di pilih?

Sebenarnya saya memilih golput, walaupun beberapa orang sahabat saya menyarankan agar saya memilih yang paling sedikit mudharatnya, tapi tidak menutup kemungkinan kalau golput salah satu dari sekian banyak pilihan yang memiliki mudharat paling minimal. Mungkin ada yang berpendapat lain? Itusih hak mereka, sejak lensernya Orde Baru dan di mulainya babak baru era Reformasi dalam tahun 1998, kebebesan sudak menjadi hak setiap orang, kebebasan untuk berbendapat, kebebasan untuk mendirikan Partai Politik, Organisasi, LSM, dan kebebasan pers, tentu tanpa melangkahi kodrat Kewajiban asasi manusia.

Kenapa memilih golput? Apakah separah itukah ketidakpercayaan saya terhadap semua partai politik yang ada di negeri saya ini? Padahal partai lokal yang ada di Aceh ini baru saja ada, kemungkinan mereka benar masih terbuka peluang, selama ini yang mengurusi masalah di daerah kebanyakan bukan putra daerah, padahal kalau saja di berikan kesempatan kepada mereka, tidak menutup kemungkinan kalau mereka bakalan berhasil berjuang atas nama rakyat.

Baiklah, kita lihat nanti ke depan, sekarang bukan bicara yang membuktikan tapi bukti yang akan membicarakan, layaknya sejarah yang berbicara tentang mereka yang terekam dalam lipatan waktu, mereka yang berjuang sekarang di tanah kelahiran saya ini juga akan di lipat oleh waktu, untuk kemudian menjadi bagian sejarah yang akan di abadikan dengan tinta baik atau buruk dalam lembaran kehidupan anak cucu ke depan. Mungkin akan di ajarkan disekolah sekolah dasar, tentang kesadaran berpolitik, etika berpolitik, kampanye hitam, dan segudang istilah-istilah politik lainnya.

Untuk saat ini, saya hanya mengamati, kadang memandang sinis, sesekali ketawa cekikikan, di lain waktu hampir mati berdiri karena di kuasai marah, adegan demi adegan hidup terekam begitu cepat dan jelas, saya hampir tidak percaya kalau lingkungan yang selama ini saya ’tinggalkan’ ternyata menyimpan begitu banyak luka dan lara, secupak ria dan tawa, segudang janji dan harapan, selaksa mimpi orang orang yang kurang tidur malamnya.

Sampai kapan? Sampai Malaikat Maut menuai panen kehidupan dengan sabit tuanya. Ya… hanya Kematian yang bisa menghentikan mereka semua.


Actions

Information

10 responses

8 11 2008
denologis

hidup perlu permainan, saudara.
dan politik adalah permainan.

9 11 2008
alex©

Ya, benar.

Hidup cuma permainan. Dan permainan butuh rules…

Tak masalah kalau tak mau ikut, bro. No problem :)

Yang penting, tetap objektif dan seimbang melihat yang bermain, bukan? :D

9 11 2008
Mr.El-Adani

@ denologis

Kalau saja politik di termasuk bagian dalam permainan hidup, yang di anggap perlu, mungkin mereka akan mencari permainan baru, kalau permainan lama udah usang dan membosankan :D

@ alex

Hidup cuma permainan. Dan permainan butuh rules…

Just wait and see, “rules” yang mana yang lebih powerfull…. :) )

Tak masalah kalau tak mau ikut, bro. No problem :)

Yang penting, tetap objektif dan seimbang melihat yang bermain, bukan? :D

Tidak menutup kemungkinan kalau entar suatu saat, saya jg akan ikut main Mas Bro :D saya ingin lihat-lihat dulu, insyaallah saya akan terus berusaha untuk belajar objektif dan seimbang melihat yang bermain, doain saya ya Mas…!
*berdoa di mulai….*

11 11 2008
iaksz

pengalaman adalah guru terbaik ..

itu kalimat yang udah kuno dan basi untuk diumumkan ke orang – orang,

tapi harus diakui, sangat berguna dalam pandangan hidup ini.

jadi, the best word is: amati saja dulu. tapi jangan lama – lama.

dan, saran aja, no golput. satu suara menentukan. dan rugi betul,

kalo disia-siakan. sekali dalam lima tahun, dan kita belum tentu masih ada

untuk lima tahun kedepan. jadi, jangan lama – lama. segera tentukan pilihan.

12 11 2008
Alex

politik dalam arti yang luas adalah ; memikirkan masyarakat banyak dan memberi manfaat kepada mereka guna kesejahteraaan umat manusia. Jadi kita semua para blogger sudah ikut berpolitik dan telah menjadi Politisi, karna kita ingin bermanfaat bagi manusia lain lewat tulisan kita……itu pemahaman sy ttg politik..hehe

ttg Parpol, itu cara berpolitik…silahkan..kita punya cara masing2..asal menjaga etika dan moral..

19 11 2008
alex©

Nah, itu pendapat kembaran saya diatas benar adanya :mrgreen:

See? Tidak ada yang absolutely apatis di sini. Bahkan meski ada sejumlah blogger teriak2 anti politik (dulu saya juga bagian dari ini), pada faktanya, tidak ada yang bisa benar2 minggat dari dunia yang satu ini. Sebuah keluh kesah, kritikan, atau bahkan tulisan dengan sinisme terhadap sikon di sekitar, itu juga bagian dari hasrat berpolitik masing2. Ya, namanya manusia… zoon politicon… binatang politik… tetap akan ingin tahu kondisi sekitar, meski memasang palang “anti sosial-politik” segede ban dump truck di jidat :D

Pokoke, kalo Iqbal nggak minat utk terlibat langsung, itu gak jadi masalah. Tapi tentu tak hanya diam macam judul lagunya Padi. Karena, kalau diam… jika suatu saat sikon politik menelikung dan menerabas hingga sisi privacy kita, kita tak punya cukup alasan utk marah2 apalagi mengajak orang utk marah2. Semacam karma, karena kita tak peduli pada kehidupan org lain saat digencet binatang2 politik lainnya :)

Eh, oleh2 dari Jepang mana ini? :P

11 12 2008
shei

yang penting politiknya jujur dan transparan aja lah,,,

selebihnya, biar Tuhan yang mengetahui :)
** dan KPK tentunya **

13 12 2008
ressay

Politik? Aku pikir bukan hal buruk.

Semua orang butuh politik.

23 12 2008
Mr.El-Adani

@ Alex

politik dalam arti yang luas adalah ; memikirkan masyarakat banyak dan memberi manfaat kepada mereka guna kesejahteraaan umat manusia.

Tapi tidak semua kegiatan yang memikirkan masyarakat banyak dan bermanfaat itu politik kan Mas :D

Jadi kita semua para blogger sudah ikut berpolitik dan telah menjadi Politisi, karna kita ingin bermanfaat bagi manusia lain lewat tulisan kita……itu pemahaman sy ttg politik..hehe

Satu sisi ada benarnya, tapi kembali ada pertanyaan, apa semua bloger itu bermanfaat?

ttg Parpol, itu cara berpolitik…silahkan..kita punya cara masing2..asal menjaga etika dan moral..

mangguk2 setuju….

@ Cobain
Tidak ada memang, tapi kepercayaan pada partai politik saya yang sudah lama sekali menepis, akumulasi tingkat tinggi Bang, macam kata saudara kita Alex di atas, yang penting masih bermoral dan beretika.

Pokoke, kalo Iqbal nggak minat utk terlibat langsung, itu gak jadi masalah. Tapi tentu tak hanya diam macam judul lagunya Padi. Karena, kalau diam… jika suatu saat sikon politik menelikung dan menerabas hingga sisi privacy kita, kita tak punya cukup alasan utk marah2 apalagi mengajak orang utk marah2. Semacam karma, karena kita tak peduli pada kehidupan org lain saat digencet binatang2 politik lainnya :)

Tidak pernah bisa diam saya Bang, well…. kita lihat saja…. tidak menutup kemungkinan kalau dulu kita yang paling getol2 teriak maling, tapi akhirnya harus bermalam di jeruji besi karena jadi maling. Pastinya tidak ada yang mau jadi seperti ini.

Eh, oleh2 dari Jepang mana ini? :P

:shock:

@ Shei
Yups, betul itu Shei, karena masyarakat sudah pande sekarang ini, tapi tetap aja kecolongan…

Tuhan yang tahu???? boleh jadi Tuhan tidak ikut mencalonkan diri jadi Capres tahun 2009 ini… :) )

@ Ressay
Pisau dapur kalau di pake untuk merampok juga akan berabe masalah nya Ress :D

2 02 2009
accord

kalau soal politik, mikir ntar mau dateng apa ndak pas coblosan aja dah males rasanya.

Leave a comment