Gembar gembor masalah silaturahmi dan perhelatan akbar setiap generasi yang melakukan acara reuni, indah memang, seindah banyaknya penampakkan di sana, juga seindah kumpulan ide ide yang terlalu utopis, atau bahkan tidak masuk akal sama sekali, tapi demi menjunjung tinggi nilai nilai agama yang nyaris terlupakan akhir akhir ini, di tambah pemberitaan media yang sangat mennyimpang (kebiasaan lama mencari kambing hitam untuk setiap masalah) tentang nasib ummat generasi satu kader dakwah (itupun kalau bisa di katagorikan kader dakwah) yang kehilangan orientasi, tanpa arah.
Ajang silaturahmi tahunan, entah halal bi halal, entah apapun itu namanya, memang tidak bisa di pungkiri ada kenikmatan sendiri di sana, melihat mereka yang sejak lama hilang entah di mana rantaunya, ada yang hanya berkirim kabar melalalu e-mail, ada yang hanya berkirim pesan lewat SMS, atau bahkan lewat telepati sekalipun tetap di lakukan, demi menjaga agar hubungan lama yang telah terjalin lewat sederetan mozaik hidup dapat kembali menyatu pada satu kenyataan bahwa kita adalah sahabat dan kita masih tetap sahabat.
Konon katanya setiap hal akan berubah, semua hanya masalah waktu, dan konon lagi, yang tidak berubah hanya perubahan itu sendiri.
Perasaan luar biasa, dan kagum adalah hal pertama yang saya alami pada saat bertatap muka dengan segelintir sahabat yang punya kesempatan untuk belajar di negeri seribu menara (sebutan mereka tentang Mesir), boleh di katakan sebenarnya ini adalah takjub dan menaruh hormat dengan mereka semua, tidak semua orang punya kesempatan untuk belajar di sana, meski dulu di awal semester kuliah sempat iri dengan mereka yang di perkenankan untuk belajar di sana, dengan dalih bisa menimba ilmu agama dari sumber aslinya, jumpa dengan para syech-syech rendah hati, berbudi pekerti mulia, dan hafidz.
Meski agama dewasa ini hanya di jadikan alat sebagai kampanye di negeri ini, setidaknya mereka masih menggunakan agama, yah… meski habis manis sepah di buang, agama masih jadi opsi untuk meraih simpati kader, selamat untuk mereka yang masih ingat agama walaupun hanya empat tahun sekali pada masa kampanye. Tapi sebentar dulu, bagi yang tidak menggunakan jasa agama pada saat kampanye, tidak akan menjadi soal, toh itu semua hak masing masing setiap partai
Tentang pelajar yang kuliah di Cairo, tentang keberuntungan mereka yang bisa kuliah di sana, dan juga tentang semua mimpi mimpi yang terkubur dalam alam bawah sadar itu, kini mulai mereduksi dengan sedikit bacaaan motivasi, tentang bagaimana menyamankan posisi dengan keadaan sekarang, menghadapi hanya masa sekarang, dan selaksa mimpi mimpi baru yang di datang dan pergi setiap harinya seiring sinaran mentari pagi yang tidak mau lagi di khianati oleh para biggot.
Hingga akhirnya saya di bawa pada satu kenyataan, bahwa di mana saja kita berada, di mana saja kita kuliah dan menuntut ilmu, bukan menjadi soal, toh semua keberhasilan masa depan tidak di tentukan dengan di mana kita kuliah, anak siapa kita, dan … dan … dan …
Silaturahmi menunjukkan saya pada kenyataan, bahwa saya tidak sendiri ternyata, di sana di belahan lain koordinat titik bumi ada yang sedang mengingat saya, walaupun itu hanya dengan melihat nomor handphone yang tersimpan di memory hape beberapa tahun silam lamanya, ada juga kembali membuka album lama kehidupan, ada senyum di sana untuk saya.
Lagi… tidak semua yang kita bayangkan benar adanya, tidak semua yang kita pahami mutlak sebagai kebenaran, dan lagi tidak ada yang bisa memaksakan kehendak meskipun hanya dengan sebuah retorika kosong dan panjang, datang maka lihatlah dengan jelas, hampiri maka dengarkanlah dengan seksama.
komentar terakhir