Bicara yang tidak ada manfaat dan hanya sekedar basa basi terlebih sering menjadikannya bahan ejekan orang orang yang ada di sekitar adalah tidak lebih baik dari pada diam bagi aku pribadi. Apa gunanya bicara kalau dengannya darah bisa mengalir, dengannya air mata tak dapat di bendung, dengannya senjata menyalak, dan dengannya ratusan atau bahkan ribuan jadi tumbal.
Tidakkah diam lebih baik jadi pilhan ketimbang bicara? Sedikit sedikit bicara bicara dan bicara, pada saat tak ada tema yang bisa di jadikan untuk bicara tapi tetap saja memilih bicara, aku pribadi tidak termasuk dalam katagori orang yang banyak diam dari pada bicara, bisa jadi tulisan ini adalah karena ketidak senangan tingkah pada diriku sendiri, terlalu banyak bicara pada hal hal yang tidak begitu penting untuk di bicarakan, padahal tanpa di sengaja aku terus memperbanyak perbendaharaan musuh musuhku kalau aku masih mau melihat setiap gerak mata, setiap omongan, dan setiap hembusan nafas itu di tujukan untuk ku, juga kalau aku masih tetap dengan sangkaan sangkaan hasil kreasi otak ku, yang terkadang di bangun dari alam bawah sadarku.
Aku kenal banyak orang dan sebagian adalah kawan yang aku anggap sangat menjaga setiap untaian kalimat yang keluar dari mulutnya, setiap kalimat yang keluar adalah hikmah dan hikmah, dia tidak bersurban, tidak juga menggunakan celana setengah lutut yang menandakana kalau mereka orang salafi atau sebutan apalagi yang di jadikan jargon untuk memanggil mereka, yang bagi kebanyakan orang akan berkata layaknya orang yang kebanjiran, tidak juga dia menghina orang orang yang tidak sependapat dengannya, baginya semua itu ada rencana dan setiap orang mempunyai tempat minum nya masing masing.
Mustahil? Tidak bagiku, karena semua itu aku hadapi dalam kenyataan, aku tatapi dalam keseharian, aku lewati dengan detik detik yang tanpa kompromi menjelma menjadi menit, kemudian tersulam menjadi hari demi hari, sangat jauh perbedaan antara aku dan dia, tapi aku tidak mau membanding bandingkan antara satu dengan yang lain kecuali ada hal yang bermanfaat bagiku untuk menarik kesimpulan dari setiap penampakan dan realitas yang konon katanya adalah kesepakatan bersama setiap individu yang ada dalam satu ikatan ruang dan waktu yang sama.
Sekali aku ingin tuliskan kalau aku seperti nya tidak akan pernah kehabisan kata untuk mengatakan tidak dengan semua ketidak pastian yang ada di depan tatapan mata, meski dengan nya darah akan terus mengalir laksana mata air segar, dengannya malaikat pencatat tidak akan kehilangan pekerjaannya karena berhenti bekerja akibat ke diaman ku, sama sekali tidak, karena bagiku, bicara adalah ada massanya, ada tempatnya dan ada tujuannya, apakah aku mesti diam pada saat orang orang di tindas? Apakah mulut harus di bungkam tatkala semua parodi berjalan di atas tengkorak manusia yang di jadikan tumbal? Aku bukanlah orang yang terlalu peduli dengan nasib orang kecil ketimbang mereka yang dengan gagah perkasa, dengan suara lantang mengatakan pilihlah aku sebagai wakil mu di gedung parlemen sana, tidak juga ahli dalam hal berorasi dan beragitasi bertemankan microphone dengan ludah ludah basi dan mereduksi menjadi fitnah fitnah atas setiap jengkal tapak yang telah terlewati.
Dan sekali lagi, diam adalah diam, bicara adalah bicara, diam ini akan tetap diam sampai diam tak ada lagi dalam keseharian, bicara akan terus bicara sampai senjata di kokang, dan aku kehabisan kata, tapi dalam dada ada hati masih ada keyakinan yang tidak bisa di ajak kompromi untuk hal yang sudah lama aku yakini.
Postingan ini hanya sekedar melepas hasrat jiwa yang ingin diam tapi lebih memilih untuk bicara, meski harus di bayar mahal.
Saya suka bicara, dan saya tidak suka diam, apalagi tidak perduli….
Iya bagi sebagian orang, tapi diam bukan berarti tidak peduli toh Mas
)
di khawatirkan juga kalau kebanyakan bicara kita lebih gampang di cela musuh, apalagi kalau sempat ketahuan kita punya kekurangan, but its ok