Jenuh

7 02 2010

Saya sampai pada titik dimana hampir semua mimpi yang mereka bangun hanya kelihatan seperti polesan tinta di atas kanvas hidup kemunafikan, saya hanya mau berjumpa dengan seadanya, tanpa perlu basa basi, tanpa perlu berharap dipuja dan disanjung.

Meraka yang berjalan dalam malam, akan paham rasa yang hanya dirasakan oleh mereka yang masuk menemu malam, hidup sebenarnya ada di jalanan, ada di bawah kolong langit. Hidup jadi tidak berarti kalau jadi tidak bermakna.

Dan saya, sampai pada titik di mana saya harus memutuskan, antara pilihan sendiri dan pilihan orang lain yang barangkali sedikitpun tidak bermanfaat bagi saya, saya sampai pada titik dimana pikiran tentang kehormatan, semangat, dan kepuraan menjadi tidak bermakna, karena saya ingin menjadi saya adanya, bukan saya ingin diadanya.





Sekotak kamar, Obat generik dan Buku.

22 01 2010

Saya baru saja pulang dari tempat biasa dan kawan-kawan berkumpul, seperti biasa ada banyak hal yang kami diskusikan, malam ini, saya pulang lebih awal, saya merasakan ada yang tidak beres dengan keadaan tubuh ini, kopi yang biasa selalu terasa nikmat, tapi saat ini, tidak ada rasanya, yang terasa adalah tawar, tidak seperti biasanya, mata mulai perih lebih awal, padahal ini mata biasa betah diajak melek sampai 24 jam hanya berdoping kopi, ya kopi Aceh yang konon katanya terkenal itu. Hidup seperti ini bukanlah contoh hidup sehat.

Dalam perjalanan, saya sudah mulai merasakan sesuatu sedang berproses dalam tubuh saya, tepatnya di kepala, terasa berat sekali, dari arah kuduk sampai dengan ubun-ubun terasa sekali denyutannya, saya masih berusaha kuat, karena saya hanya butuh 10 menit untuk tiba di rumah.

Sekarang mata yang mulai perih, sedikit berkunang-kunang, mau tidak mau saya harus mengurangi kecepatan, saya khawatir kalau terjadi apa-apa, sedangkan kecepatan masih terlalu tinggi.

Sesampai dirumah, saya tidak langsung minum obat, kebetulan saya selalu mempersiapkan beberapa obat yang dianggap perlu untuk pertolongan pertama kalau terjadi apa-apa, inipun berkat saran dari beberapa orang, kebiasaan saya, tidak langsung menggunakan obat-obat yang ada, tapi mendiamkan dulu tubuh saya agar bisa istirihat, biasanya saya hanya minum air putih lebih banyak dari biasanya, kalau biasa hanya dua gelas perhari, maka malam itu, sesampai di rumah, saya paksakan minum sampai enam gelas, dari dulu saya percaya dengan terapi ini.

Saya langsung merebahkan badan, tidak lupa dengan selimut, badan sudah mulai terasa panas, tapi satu selimut tidak cukup, rasa dingin ini lain sekali kawan, seperti dari dalam asalnya, dari tulang dia menjalar, dari ujung kaki sampai pundak. Kepala terasa mau meledak, saya panik sekali, tak ada yang bisa saya lakukan kecuali hanya terbaring menahan rasa sakit yang seakan tidak ada akhirnya, tidak ada pilihan kecuali harus menelan obat, satu hal yang paling tidak saya sukai.

Terkapar dalam kamar sendiri, tanpa kekuatan untuk sekedar ke kamar kecil pun, sungguh sangat menakutkan, yang teringat saat itu, apa jadinya kalau ini adalah akhir dari hidup yang selama ini aku agungkan, bagaimana bisa otak yang selama ini aku gunakan bisa berdenyut sebegitu hebatnya, sampai terasa sangat menyakitkan. Rasa sakit ini berbeda kawan, tidak sama seperti rasa sakit yang bisa saya rasakan kalau sedih memikirkan hal-hal yang relatif rumit, dan saya menyukai rasa sakit yang ditimbulkan oleh rasa sakit pada saat saya berfikir, tapi malam itu rasa sakit ini sangat jauh berbeda.

Sendiri dalam penderitaan, tanpa alat komunikasi, hanya untuk memberi kabar, kalau sekarang saya sedang berada di ambang batas, antara hidup dan mati, tanpa ada yang tahu apa yang sekarang saya rasakan, sungguh mengerikan.

Tidak ada akses internet, tidak ada akses komunikasi, tidak ada kabar, dan tidak ada satu orangpun yang tahu keberadaan serta keadaan saya, bahkan orang-orang yang selama ini berinteraski dengan saya.

Saya sendiri….! dalam kesendirian dan penderitaan, saya hanya bisa berharap, setidaknya kalau saya mati malam ini, tidaklah sampai menunggu satu bulan, baru kabar kematian ini menyebar, saya harap tidak sampai demikian.

Saat musibah, sejahat dan seberapa angkuhnya seseorang, mestilah dia berdoa, seorang yang tidak percaya Tuhan sekalipun, akan berharap sembuh, Tuhan yang pernah dipertanyakan keberadaannya, Tuhan yang pernah ingin dibuktikan dengan akal dan nalar, Tuhan yang sering sekali dilupakan, ya.. kadang manusia butuh cobaan dan penderitaan, agar kita kembali tahu, seberapa kuatnya kita, dan seberapa lemahnya kita.

Kamar kecil itu barangkali yang jadi saksi, bagaimana saya bertahan untuk tetap kuat, sekeliling kamar, cuma ada beberapa gantungan baju, dan tumpukan buku, ada yang rapi tersusun berderet di atas rak buku, dan banyak yang berserakan di meja, dekat bantal tidur, di lantai, dan di atas lemari.

Malam itu, saya berhasil tertidur, hanya bermodal air putih dan obat generik, saya bisa tertidur pulas, melupakan rasa sakit tertusuk paku dikepala, sakit sekali. Mungkin sebagian pernah merasakan sakit yang teramat ini.

Esok pagi, saya terbangun, bersukur karena saya masih hidup, rasa sakit itu masih ada kalau saya bergerak, kepala inginnya didiamkan saja, tidak mau diajak untuk bangkit hanya untuk sekedar ke belakang, saya masih lemas. Hari kedua juga tidak jauh berbeda dengan hari pertama, hanya saja saya sudah sanggup bangun.

Keadaan mulai membaik setelah empat hari, selama empat hari, saya menghabiskan waktu di kamar saja, selain untuk keperluan yang sangat mendesak, selebihnya saya hanya ditemani tumpukan buku yang selama ini menunggu giliran untuk disentuh, sabar sekali, anggun sekali rupa mereka, dalam kesendirian dan lemah, mereka masih ada di dekat saya dengan penantian penuh kesabaran.

Empat hari di rumah, tidak ada aktifitas sesama teman, tidak ada komunikasi, tidak ada akses internet, tidak ada basa basi, tidak ada kepalsuan, tidak ada berita baik dari saya maupun dari orang lain, karena seperti biasa, saya hanya orang yang tidak suka keramaian, dan sangat jarang berinteraksi dengan orang ramai, saya ini kurang gaul, kalau boleh dibilang tidak punya banyak teman, kecuali sesekali kalau ada kesempatan, selebihnya saya hanya seorang introvert, maka adalah hal yang wajar, kalau misalnya saya tidak nampak dalam seminggu, dan tidak ada yang menanyakan, saya lebih suka begini, dan lebih nyaman seperti ini. Saya juga tidak terlalu pandai dalam berteman, itu faktanya, ah barangkali itu bukan fakta yang benar adanya, tapi hanya penafsiran saja, toh itu semua masih bisa salah :D

Untungnya, di rumah saya tidak sendiri, banyak buku yang menjadi sahabat saya, setiap buku selalu sabar menunggu giliran untuk disentuh, dinikmati kandungannya, diisap ilmunya, dibelai dan bercinta dengannya.

Tak ada kawan yang lebih setia dari buku, tidak ada yang paling sabar menemani selain buku, buku tidak pernah mengeluh, tidak peduli dia, kalau misalnya saya dua hari tidak mandi lantaran sakit yang saya derita, kemudian datang menghampirinya, membuka lembar demi lembar, mengusapnya, menikmatinya, merengkuh setiap hikmah di dalamnya, buku tidak pernah ambil peduli, hanya orang bodoh dan pandir yang membuang buku ke tempat sampah, hanya sampah yang tidak bisa menghargai buku.

Aku membaca, maka aku ada, aku tidak membaca, maka aku mengada-ngada. Tapi kalau sakit sudah sangat parah, cepat-cepatlah periksakan diri ke Rumah Sakit terdekat, karena kadang buku juga tidak bisa “menyembuhkan”. :D





Petikan kalimat hari ini [1]

9 01 2010

“Jika membuat kesalahan dalam persamaan matematika, maka kita tinggal menghapusnya saja. Nyatanya, keputusan apapun dalam hidup, seberapa tidak pentingnya, punya akibat yang tidak bisa dibalikkan.” (Arthur Seldom, The Oxford Murders)





Mau jadi penegak hukum?? Kalau begitu, DP dulu!

6 01 2010

Koran lokal hari ini, diiming-iming jadi Satpol PP, belasan pemuda tertipu, puluhan juta rupiah nyaris raib.

Sungguh hebat sekali tanah ini, untuk jadi penegak hukum dan pengawal syariat, kita mesti ada modal dulu, katakanlah uang pelicin agar semua urusan birokrasi jadi mudah.

Maka tidak heran, selama melakukan tugas “mulia” sebagai penegak hukum dan pembela syariatpun, banyak sekali “kemulian-kemulian” yang mereka pertontonkan. Anehnya, sebagian orang-orang yang sebagian sudah merasa tua, dan berpengalaman, tega-teganya menipu pemuda-pemuda tanggung yang sudah lulus SMA sperti saya ini.

Sungguh kelewatan sekali. Terlalu….!





Nekrodamus

1 01 2010

Kami yang menari…
Hanya menyembah kuasa…
Dan meredam semua dinding–dinding neraka…
Kami yang menyimpan derita pada pintu-pintu surga…

Yo! Mereka yang menyimpan gelisah pada kegelapan
harus menaruh ngeri pada benih yang ditabur kemiskinan
yang menyimpan bara lebih banyak dari koleksi Tuhan atas kutukan
sehingga setiap jiwa yang mati tak harus menunggu proses pembusukan
dan mereka yang meredam angkara harus menyadari dinding bangunan
yang membuat pilihan tak dikirim tuhan untuk bebas dari setan
dan bersimpati pada nisan sebagai maha simbol kearifan
Dipungut setengah terpaksa di belokan separuh jalan
hidup yang berkubang hampir menyerupai selokan
dengan kubangan dimana mereka membuang limbah dan selongsong deodoran
megatruh kota yang meradang dibawah billboard Nokia dan Coca Cola
kokoh berpola seragam layak output GTO dan opini para tentara
menagih laba lebih banyak dari para kurir samsara
menagih suara di hari yang haram kau boikot atau menghuni penjara
menagih nyawa anakmu sebagai ganti wadal perantara
dengan belerang, valas, narkotik, sesajen dan maskara
jangan berkotbah tentang kiamat dipojok lokalisasi dimana malaikat
hanya boleh menjemput mereka yang sekarat
mencegat nafas setengah hidup dibekap
dilanskap pesugihan permanen sebagai pengabdi kamar mayat
tanpa belikat menjalani kanal berangkal dengan urat nadi tersayat
Apa yang dapat diharap dari intelektual yang sibuk merancang sengkarut
teori diatas statistik dan balistik filsafat yang sibuk membadut
Apa yang bisa diharapkan dari aktivisme yang pasang surut
kamerad, tak ada revolusi ditengah rakyat yang militan memasang buntut
sehingga petaka adalah antrian sembako dan kita menanti nomor urut
sehingga setan berhutang kegelapan lebih banyak dari metafor novel Phutut
meta-gore gospel thagut, laghut  menyembunyikan makam lebih lihai dari kabut
lebih picik dari fatwa pengecut tebaran para imam yang tersudut
Penguasa kota ini menegakkan keamanan dengan memelihara rasa takut
Dinding kota ini mempromosikan kebebasan dengan mulut, hasrat dan mata tertutup
penegak iman disini membangun imaji Tuhan dengan kilatan pedang diatas punduk
maka kami tak butuh manual moral atas apa yang layak dan apa yang tidak patut

***
Sudah kuduga aku akan berubah wujud, separuh hamba, separuh Tuhan, separuh Marduk
Separuh hidupku dirajam berkah, tetap terkutuk
Separuh kutinggalkan terikat di rel kereta,
Separuh kusisakan untuk tiga matahatiku (matahariku), dan kubiarkan berlanjut

=========

Lirik ini saya dapat di salah satu postingan politikana, setelah didengar kembali ternyata ada beberapa kata dan kalimat yang tidak sama, namun dengan rendah hati, penulis meminta masukan dari siapapun, salah satunya masukan dari saudara ini disini. Dan saya sepakat dengan masukan dari saudara ini, hanya saja, masih ada beberapa kalimat yang saya pikir tinggal dan sedikit berubah, barangkali ini karena repetan yang begitu cepat dan noise.

Tapi tetap saja saya merasa ada sebagian lirik yang tidak saya tahu dengan jelas, dan saya akan sangat berterima kasih atas saran dan masukan dari saudara-saudara semua :D

Setelah semuanya, Selamat Tahun Baru bagi yang merayakannya hehehe :D





Kenapa Saya Ngeblog?

21 12 2009

Awalnya begini, saya punya blog sudah hampir kurang lebih 4 tahun kalau saya tidak salah, niat awal ngeblog cuma sekedar ingin menulis apa yang lewat dalam pikiran saya, tempo hari itu, di tempat saya belajar, ada yang namanya Alex Cobain, dia punya blog ada di halaman tintamerah.blogspot.com. Tulisan-tulisan di situ waktu itu, cara dia menyampaikan apa yang ada di pikirannya itu, cara dia menulis, dan semua aktivitasnya dalam dunia blogging, jadi pemicu saya untuk ngeblog.

Waktu itu, ada semacam tren, ngeblog dikalangan kawan-kawan saya, dan beberapa senior juga tidak ketinggalan untuk ngeblog. Tidak tahu apakah itu hanya sekedar tren sesaat, atau memang betul-betul hasrat ingin menulis apa saja tentang ide-ide, gagasan, sekedar pendapat, caci maki sosial, puisi, dan sebagainya.

Dan sejalan dengan waktu, ada sebagian yang hilang, sebagian ganti alamat dengan alasannya sendiri, sebagian ganti kulit, dan sebagian ingin menjadi se-anonimos mungkin. Itu semua hak yang punya blog.

Blog pertama saya di blogspot, atas saran seorang senior yang tidak ingin disebutkan namanya, saya coba di wordpress, ternyata sarannya benar adanya, di sini lebih interaktif, diskusinya aktif kalau dibandingkan dengan yang lama, padahal sama saja, bedanya, kalau di sini saya lebih sering blogwalking, komen di blog saudara blogger, jadi ada semacam hubungan interaktif yang timbal balik.

Kalau dulu, lingkungan aktifitas blogging hanya sekedar beberapa blog teman yang saya kenal, pernah jumpa, sering diskusi di dunia nyata, kemudian berlanjut di dunia maya. Tapi sekarang keadaan berubah dan sama sekali berbeda, dari halaman blog senior yang tidak ingin disebutkan namanya, dan blog senior yang udah kadung tenar di dunia blogging, saya coba lihat satu persatu list teman yang ada di dua laman blog senior tadi, sejak itulah aktivitas blogging saya tidak sekedar dengan kawan-kawan yang selama ini saya kenal, tapi juga dengan saudara-saudara bloggers yang bahkan tidak pernah saya berjumpa dengan mereka.

Dari situ saya mulai bertanya, aktivitas blogging yang selama ini saya lakukan, menulis, memberikan komentar, sampai akhirnya saya sampai pada satu pertanyaan, kenapa saya ngeblog?

Seharusnya pertanyaan ini sudah saya jawab jauh-jauh hari, ketika saya memutuskan ngeblog untuk pertama kali, tidak sekedar tren sesaat, bukan hanya ikut-ikutan, tapi mesti ada alasan yang kuat yang bisa meyakinkan saya kalau ngeblog itu perlu, ada manfaat, asik dan sejumlah alasan-alasan lain yang mengarah pada jawaban kenapa saya ngeblog?

Mungkin sekarang saya harus berpikir ulang, tentang blog ini, tentang niat saya kenapa harus ngeblog, dan kenapa saya harus ngeblog, agar kegiatan blogging ini tidak hanya sekedar tren sesaat, atau hanya sekedar ikut-ikutan karena kaget tiba-tiba ada seminar yang mengkampanyekan AYO NGEBLOG! Atau ajakan-ajakan lainnya, mungkin juga saya harus menghargai setiap keputusan dari setiap individu tentang kenapa mereka memulai ngeblog, kenapa mereka memutuskan untuk hiatus sementara, atau bahkan mereka yang mengambil sikap untuk berhenti ngeblog.

Semua punya alasan kenapa mereka ngeblog, apakah itu hanya sebagai tempat berbagi ilmu, wawasan dan pengalam, atau hanya sekedar tempat mencari sesuap nasi dengan AdSense-nya, semua itu hak saudara-saudara.

Sekarang waktu saya untuk kembali merenung, berpikir ulang, menelaah kembali, menyusun strategi, dan melakukan pencarian makna yang melelahkan ini tentang … KENAPA SAYA NGEBLOG? :P

*Melarikan diri ke gunung…*





Pagi Pukul Enam

10 12 2009

Seperti biasa, pagi selalu menyimpan keunikan

Setiap pagi, selalu berbeda…

Semua kemunafikan, sudah dipermalukan malam

Sang fajar hadir, menyemai benih baru..

Terinspirasi dari sini





Liza-Kuthidhieng

15 11 2009

liza-kuthidhieng

Kuthidhieng, entah apa artinya ini, sejak pertama mendengar salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Liza, salah satu mahasiwa FKIP di salah satu perguruan tinggi di Banda Aceh, saya sudah langsung penasaran dengan liriknya, disamping alunan musik yang kentara tradisional, lagu yang dibawakan oleh Liza yang pernah bergabung dengan salah satu sanggar seni ini, juga menggunakan instrument modern, tidak salah kalau sejak pertama didengar, lagu ini jadi satu dari sekian kecil lagu Aceh yang saya kagumi.

Disamping iramanya, ada satu hal menarik dari lagu ini, yakni lirik-lirik yang dibawakan oleh dara Aceh kelahiran 1986 ini sangat kentara aroma mejisnya, dari sekian banyak lirik yang diucapkan, hanya ada beberapa bagian kecil  kalimat yang saya ngerti, selebihnya, adalah nihil, barangkali saya tergolong dari sebagian generasi muda yang melupakan sejarah, terutama sekali sejarah bahasa indatu mereka.

Rasa penasaran saya juga yang membawa saya pada Paman Gu, saya penasaran dengan lirik dan video clip lagu ini, dan hasilnya …… benar saja, dalam setiap jengkal liriknya, aroma magic tidak bisa dilepaskan.

Dibeberapa daerah Aceh, apalagi di pedalaman daerah Aceh, ilmu bela diri dengan menggunakan doa-doa yang diucap komat kamit bukan barang mustahil, dalam ucapan-ucapan yang dilafalkan itu, tidak jarang ada kalimat-kalimat yang entah dari bahasa apa adanya, sebagian ada dari bahasa daerah pedalaman, seperti dalam lirik lagu ini, ada juga beberapa kalimat yang dijadikan perumpamaan, ilmu bela diri klasik ini, tidak bisa dibilang isapan jempol belaka, bagi sebagian orang, fenomena ini, menjurus sirik, dan bagi sebagian orang, ini fenomena yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, kecuali bagi mereka yang melihat kejadian ini dengan mata kepala sendiri.

Seperti ada penyatuan raga dengan kekuatan semesta disini, kurang lebih hampir sama dengan konsep wihdatul wujud-nya Hallaj, kalau kembali ke sejarah masa lalu, di Aceh, Hamzah Fansuri menjadi ulama yang meyakini konsep wihdatul wujud ini, sejarah tentang Hamzah Fansuri dan pertikaian dengan Nurruddin Arraniry, konon katanya tidak terlepas dari intrik politik pada masa itu.

Di akhir klip, saya diingatkan pada sosok Rumi, dengan tarian khasnya, setidaknya, dengan adanya lagu ini, saya bisa kembali ingat tentang sejarah, dan tentang sedikitnya pemahaman saya tentang daerah yang saya tinggali sekarang.

Tentu setiap daerah punya ciri khas masing-masing, itu pula yang membuat Negara ini, menjadi salah satu Negara yang paling banyak kekayaan budayanya, maka tidak heran kalau banyak tetangga kita yang tidak senang melihat rumput kita punya lebih hijau dari yang mereka punya, ah semoga ungkapan ini tidak berlebihan.

Sampai sekarang, maksud dari Kuthidieng masih jadi pekerjaan rumah buat saya…, berikut cuplikan lagunya. Enjoy….!

Credit gambar

Forum Aceh

 





Petikan kalimat hari ini [0]

6 11 2009

Mereka tahu kalau mereka diciptakan bukan untuk main-main, mereka paham betul dengan tantangan yang mereka hadapi ke depan, satu hal yang mereka yakini, mereka punya musuh bersama, ini yang membuat mereka sangat menghargai waktu.

~ Kawan serumah ~





Apa kabar Pemuda?

27 10 2009

Selama darah muda ini masih terus bergejolak, kita pemuda, tidak akan pernah berhenti berjuang, sampai kapanpun, iya kawan-kawan, sampai kapanpun….

Pemuda itu tiang kebangkitan bangsa, kalau pemuda suatu bangsa berani, maka jangan takut dengan siapapun, karena siapapun akan gentar menghadapi bangsa yang pemudanya kuat seperti kita ini…

Begitukah?? Kita lihat saja, seberapa lama kalimat-kalimat seperti di atas akan tetap bertahan, terutama sekali bagi orang yang mengucapkannya.

Ah Pemuda, apa kabar hari ini???? Pekerjaan kita masih banyak, tampa perlu bicara penuh semangatpun, dunia akan tetap melihat, apa yang bisa dilakukan oleh pemuda.

Ini bukan sumpah pemuda, tapi kegelisahan seorang pemuda.

*Itung umur, apa masih muda ya???*