Saya baru saja pulang dari tempat biasa dan kawan-kawan berkumpul, seperti biasa ada banyak hal yang kami diskusikan, malam ini, saya pulang lebih awal, saya merasakan ada yang tidak beres dengan keadaan tubuh ini, kopi yang biasa selalu terasa nikmat, tapi saat ini, tidak ada rasanya, yang terasa adalah tawar, tidak seperti biasanya, mata mulai perih lebih awal, padahal ini mata biasa betah diajak melek sampai 24 jam hanya berdoping kopi, ya kopi Aceh yang konon katanya terkenal itu. Hidup seperti ini bukanlah contoh hidup sehat.
Dalam perjalanan, saya sudah mulai merasakan sesuatu sedang berproses dalam tubuh saya, tepatnya di kepala, terasa berat sekali, dari arah kuduk sampai dengan ubun-ubun terasa sekali denyutannya, saya masih berusaha kuat, karena saya hanya butuh 10 menit untuk tiba di rumah.
Sekarang mata yang mulai perih, sedikit berkunang-kunang, mau tidak mau saya harus mengurangi kecepatan, saya khawatir kalau terjadi apa-apa, sedangkan kecepatan masih terlalu tinggi.
Sesampai dirumah, saya tidak langsung minum obat, kebetulan saya selalu mempersiapkan beberapa obat yang dianggap perlu untuk pertolongan pertama kalau terjadi apa-apa, inipun berkat saran dari beberapa orang, kebiasaan saya, tidak langsung menggunakan obat-obat yang ada, tapi mendiamkan dulu tubuh saya agar bisa istirihat, biasanya saya hanya minum air putih lebih banyak dari biasanya, kalau biasa hanya dua gelas perhari, maka malam itu, sesampai di rumah, saya paksakan minum sampai enam gelas, dari dulu saya percaya dengan terapi ini.
Saya langsung merebahkan badan, tidak lupa dengan selimut, badan sudah mulai terasa panas, tapi satu selimut tidak cukup, rasa dingin ini lain sekali kawan, seperti dari dalam asalnya, dari tulang dia menjalar, dari ujung kaki sampai pundak. Kepala terasa mau meledak, saya panik sekali, tak ada yang bisa saya lakukan kecuali hanya terbaring menahan rasa sakit yang seakan tidak ada akhirnya, tidak ada pilihan kecuali harus menelan obat, satu hal yang paling tidak saya sukai.
Terkapar dalam kamar sendiri, tanpa kekuatan untuk sekedar ke kamar kecil pun, sungguh sangat menakutkan, yang teringat saat itu, apa jadinya kalau ini adalah akhir dari hidup yang selama ini aku agungkan, bagaimana bisa otak yang selama ini aku gunakan bisa berdenyut sebegitu hebatnya, sampai terasa sangat menyakitkan. Rasa sakit ini berbeda kawan, tidak sama seperti rasa sakit yang bisa saya rasakan kalau sedih memikirkan hal-hal yang relatif rumit, dan saya menyukai rasa sakit yang ditimbulkan oleh rasa sakit pada saat saya berfikir, tapi malam itu rasa sakit ini sangat jauh berbeda.
Sendiri dalam penderitaan, tanpa alat komunikasi, hanya untuk memberi kabar, kalau sekarang saya sedang berada di ambang batas, antara hidup dan mati, tanpa ada yang tahu apa yang sekarang saya rasakan, sungguh mengerikan.
Tidak ada akses internet, tidak ada akses komunikasi, tidak ada kabar, dan tidak ada satu orangpun yang tahu keberadaan serta keadaan saya, bahkan orang-orang yang selama ini berinteraski dengan saya.
Saya sendiri….! dalam kesendirian dan penderitaan, saya hanya bisa berharap, setidaknya kalau saya mati malam ini, tidaklah sampai menunggu satu bulan, baru kabar kematian ini menyebar, saya harap tidak sampai demikian.
Saat musibah, sejahat dan seberapa angkuhnya seseorang, mestilah dia berdoa, seorang yang tidak percaya Tuhan sekalipun, akan berharap sembuh, Tuhan yang pernah dipertanyakan keberadaannya, Tuhan yang pernah ingin dibuktikan dengan akal dan nalar, Tuhan yang sering sekali dilupakan, ya.. kadang manusia butuh cobaan dan penderitaan, agar kita kembali tahu, seberapa kuatnya kita, dan seberapa lemahnya kita.
Kamar kecil itu barangkali yang jadi saksi, bagaimana saya bertahan untuk tetap kuat, sekeliling kamar, cuma ada beberapa gantungan baju, dan tumpukan buku, ada yang rapi tersusun berderet di atas rak buku, dan banyak yang berserakan di meja, dekat bantal tidur, di lantai, dan di atas lemari.
Malam itu, saya berhasil tertidur, hanya bermodal air putih dan obat generik, saya bisa tertidur pulas, melupakan rasa sakit tertusuk paku dikepala, sakit sekali. Mungkin sebagian pernah merasakan sakit yang teramat ini.
Esok pagi, saya terbangun, bersukur karena saya masih hidup, rasa sakit itu masih ada kalau saya bergerak, kepala inginnya didiamkan saja, tidak mau diajak untuk bangkit hanya untuk sekedar ke belakang, saya masih lemas. Hari kedua juga tidak jauh berbeda dengan hari pertama, hanya saja saya sudah sanggup bangun.
Keadaan mulai membaik setelah empat hari, selama empat hari, saya menghabiskan waktu di kamar saja, selain untuk keperluan yang sangat mendesak, selebihnya saya hanya ditemani tumpukan buku yang selama ini menunggu giliran untuk disentuh, sabar sekali, anggun sekali rupa mereka, dalam kesendirian dan lemah, mereka masih ada di dekat saya dengan penantian penuh kesabaran.
Empat hari di rumah, tidak ada aktifitas sesama teman, tidak ada komunikasi, tidak ada akses internet, tidak ada basa basi, tidak ada kepalsuan, tidak ada berita baik dari saya maupun dari orang lain, karena seperti biasa, saya hanya orang yang tidak suka keramaian, dan sangat jarang berinteraksi dengan orang ramai, saya ini kurang gaul, kalau boleh dibilang tidak punya banyak teman, kecuali sesekali kalau ada kesempatan, selebihnya saya hanya seorang introvert, maka adalah hal yang wajar, kalau misalnya saya tidak nampak dalam seminggu, dan tidak ada yang menanyakan, saya lebih suka begini, dan lebih nyaman seperti ini. Saya juga tidak terlalu pandai dalam berteman, itu faktanya, ah barangkali itu bukan fakta yang benar adanya, tapi hanya penafsiran saja, toh itu semua masih bisa salah
Untungnya, di rumah saya tidak sendiri, banyak buku yang menjadi sahabat saya, setiap buku selalu sabar menunggu giliran untuk disentuh, dinikmati kandungannya, diisap ilmunya, dibelai dan bercinta dengannya.
Tak ada kawan yang lebih setia dari buku, tidak ada yang paling sabar menemani selain buku, buku tidak pernah mengeluh, tidak peduli dia, kalau misalnya saya dua hari tidak mandi lantaran sakit yang saya derita, kemudian datang menghampirinya, membuka lembar demi lembar, mengusapnya, menikmatinya, merengkuh setiap hikmah di dalamnya, buku tidak pernah ambil peduli, hanya orang bodoh dan pandir yang membuang buku ke tempat sampah, hanya sampah yang tidak bisa menghargai buku.
Aku membaca, maka aku ada, aku tidak membaca, maka aku mengada-ngada. Tapi kalau sakit sudah sangat parah, cepat-cepatlah periksakan diri ke Rumah Sakit terdekat, karena kadang buku juga tidak bisa “menyembuhkan”.
komentar terakhir