Berada sendiri dan menikmati semua atau segala sesuatu yang lewat melalui daun telinga, sehingga menghasilkan respon dari dalam kepala, mendengar adalah lebih baik dari pada terlalu banyak bicara, menyendiri.
Duduk di ruang seukuran 4×5 m dengan alunan musik tahun 80-an, dengan semua kenangan manis yang pernah aku lewati dengan kawan kawan masa kecilku dulu, teringat akan kenakalan childhood yang mengundang banyak sumpah serapah orang orang yang merasa terusik dengan semua tingkah nakal kami waktu itu, mungkin masa itu kami belum paham akan ketenangan, karena di dunia ini ada hanya untuk main main dan main.
Tapi itu dulu, sekarang semua sudah berubah, kawan kawan itu sudah menghilang dari pandangan, ada yang merantau menuntut ilmu, ada juga yang kembali ke kampung halaman mereka untuk membina sebuah bahtera dan mereka menjadi nakhoda dalam bahtera itu, atau dengan kata lain menikah.
Benar kata mas Andrea kalau masa kecil itu adalah masa yang tak kan pernah bisa terlupakan, bahkan karena masa kanak kanak pula yang bisa menginspirasi seseorang sehingga mengantarkannya kepada puncak kesuksesan yang tertinggi dengan segudang prestasi yang hampir tak mungkin untuk seukuran anak kampung seperti Andrea. Kenapa? Karena sekarang ini saya melihat sukses itu hanya milik mereka yang memiliki modal besar untuk bayar studi mereka, sedangkan bagi mereka yang tidak berkecukupan untuk itu dilarang masuk atau lebih tepatnya dilarang mendekat. Tapi semua itu ternyata di jungkirbalikkan oleh Andrea, ternyata hanya dengan mimpi seorang bisa bertahan dan hanya dengan mimpi pula orang bisa benar benar menjadi orang, kata pepatah bijak a man without ambition like a bird without a wing, tidak berlebihan barangkali kalau kita memcoba menembus batas batas kemapuan kita, toh kita akan tahu sampai dimana kemampuan kita setelah kita memang benar benar tidak mampu lagi.
Ada apa dengan Andrea? Bukan kenapa kenapa, hanya saja tetraloginya telah mengubah cara pandang saya yang selama ini terlalu mudah untuk melupakan masa kecil, dan tentunya banyak pesan moral yang saya dapat kan dari tiga bukunya yang saya baca.
Dulu, setidaknya ada dua fase kehidupan masa kecil saya yang sangat kentara terkesannya dalam mozaik kehidupan saya ini, pertama masa ketika saya masih SD, dan kedua masa ketika tamat SD yang pasti.
Potongan masa SD
Potongan pertama: waktu kelas 4 SD, masih terlalu muda dan kecil tentunya, kebetulan kami kena jatah masuk siang, karena pagi semua kelas di gunakan oleh anak kelas satu sampai kelas enam, yang jatah siang hanya kelas tiga dan empat, sedangkan kelas lima dan enam kebagian jatah pagi, mengingat jumlah siswa kelas satu yang ampun banyaknya, empat kelas di bagi dua shift.
Seperti biasa kalau tidak belajar ya mau tidak mau harus main dan main, bola kaki menjadi pilihan hampir semua anak anak seukuran kami, karena di depan sekolah ada satu lapangan yang sering digunakan pada acara liga sepak bola antar kampung, pernah satu hari, final sepak bola antar kampung saya dengan kampung tetangga, rugi rasanya kalau tidak melihat pertarungan hidup mati ini, di sana kami akan melihat bintang sepak bola kami yang muncul satu musim sekali, alih alih bisa fot bareng, sebagian kawan memilih cara sederhana dan sopan, dengan cara memegang baju orang dewasa tanpa sepengetahuan mereka, tentu saja panjaga karcis mengira kalau itu adalah anak mereka. Ada pula yang memilih manjat batang jambu depan sekolah yang tingginya dua kali tripleks yang digunakan panitia pelaksana, tapi kami menempuh jalan yang paling sederhana, dengan kontur lapangan yang bopeng bopeng alias banyak gundukannya, sudah baran tentu ada lubang dan tanjakannya, nak kami memilih untuk masuk lewat jalur alternative yang sudah kami gali, dengan sedikit usaha, kami langsung bisa masuk ke lapangan. Tapi ternyata perjuangan tidak berhenti di situ, karena kami harus adu kecepatan dengan panita penyelenggara karena mereka tidak sedang menonton bola tapi melihat tingkah kami, atau dengan kata lain kami ketahuan, dan acara sprint-pun di mulai……..
Pesan untuk orang tua: jangan pernah mengajak anak yang berumur sepuluh tahun untuk adu kecepatan sprint, karena itu akan sia sia dan buang energi (baca:kalah).
Potongan kedua: kelas 4 SD, keluar sekolah tanpa izin untuk alasan dan keperluan kawan yang rumah nya kebetulan agak sedikit jauh, tak satu pun guru yang tahu kalau dua siswa mereka tidak berada di tempat, kerena mereka sedang sibuk dengan tas baru, sepatu baru, baju baru dan entah apalagi yang baru, lantas semua yang baru itupun berubah menjadi berita baru, dua anak didik mereka tiba tiba kecelakaan, sepeda yang mereka gunakan jatuh kesungai sedangkan dua siswa di nyatakan selamat dan tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, hanya saya seorang siswa harus di jahit tujuh kali karena luka sobek seukuran jari tengah, tapi anehnya korban tidak sadar kalau ada luka sobek dalam insiden itu. Para guru baru sadar kalau mereka kecolongan hari ini.
Pesan untuk para guru: kurangi jam terbang (baca:gossip) anda pada saat jam belajar, karena siswa anda membutuhkan perhatian dan wejangan dari anda, terlalu sering ngegosip bisa buat rambut cepat beruban(sumber ga jelas).
Potongan masa SMP dan SMU
Masa ini saya lewati enam tahun dengan modok di salah satu pesantren terpadu, bahkan menjadi entry point sendiri bagi saya, banyak hal yang saya dapatkan selama enam tahun mondok di sana, mulai dari melihat ragam corak manusia, sampai aneka ragam bahasa, pastinya bahasa di sekitar kampung saya saja, wah wah wah ternyata masa masa itu menjadi memori yang tak terlupakan dalam mozaik kehidupan saya untuk kedepan.
Potonga pertama: kelas tiga SMP mulai kenal lagi dengan yang namanya rokok, setelah tiga tahun di karantina terhitung sejak tamat SD, maka hal hal yang berkaitan dengan rokok sudah di tinggalkan, tapi apa daya tangan tak sampai, walaupun kami tahu hukuman yang akan di terima kalau ketahuan merokok, tapi batang rokok itu pun nancap lagi ke mulut ku, welcomeback bro!.
Awalnya tak berani juga isap itu barang yang haram di tempat mondok saya, tapi karena lama lama jadi ga tahan juga lihat kawan seangkatan udah pada entah sampai kemana maka saya pun langsung tancap gas, nikmat broo!
Kami semua empat orang, satu orang yang jadi ngontrol kalau kalau ada ustadz yang lewat, yang lain masih sibuk dengan aktivitas suck-in nya, dan ternyata dan ternyata aksi pertama kami berhasil, ini menjadi modal awal kami untuk melakukan hal yang sama untuk kedepannya, mulai di atap sekolah, di bawah ranjang asrama, di sudut sudut kelas, bahkan juga di double u ci (WC) J
Potongan kedua: akhir kelas Tiga Aliyah (sederajat dengan SMU), di tingkat ini, semua hal yang berkaitan dengan rokok sudah menjadi mudah, selain karena faktor senioritas, mungkin juga karena faktor lain yang saya sendiri juga tidak tahu samapai saat ini, mungkin ada yang tahu???
Puncak nya akhir tahun ajaran, pas mau tamat dari pesantren, entah kena angin mana, malam itu karena faktor merasa di lecehkan oleh junior, maka kami berinisiatif untuk memberikan mereka belajaran, yang ini juga ga jelas pelajaran apa yang saya maksud, tapi acara malam ini akan menjadi puncak karir kami di sini sekaligus puncak aksi kami, karena setelah ini kami akan melewati hari hari yang mengerikan , bahkan lebih ngeri dari ngeri itu sendiri, malam itu kami merencanakan untuk menghabisi o bukan maksud saya memberi pelajaran untuk bisa lebih menghargai orang lain, lebih tepatnya menghargai senior mereka. Pesan moral : tidak selamnya yang anda dengar itu benar, dan tidak selamnya senior itu benar, mereka juga manusia, sama seperti rocker J
Halah, itu semua masa kecil ku dulu, dilupakan? Tak mungkin saya lupakan, biarkan dia ada dan tetap ada, karena suatu saat dia akan di minta untuk mempertanggung jawabkan dan menolak untuk kembali di ulang.
Sekarang, saya lebih suka menghabiskan waktu di kampus, tepatnya di lab, sudah mulai konsen dengan kuliah dan pingen nya sih bisa kelar kuliah tahun ini, tapi mau jumpa dosen untuk tanya topik tugas akhir belum berani, gaa tahu juga kenapa bisa jadi pengejut gini, padahal ini bukan sifat saya yang sebenarnya.
Dosen saya itu auranya luar biasa, dari radius 20 meter saja saya sudah ga berani natap apa lagi kalau sempat face to face, geretak gerutuk ni lutut, tapi ga segitunya kok
Dan untuk yang terakhir saya sudah mulai menikmati menjadi seorang introvert.
komentar terakhir